Grand Opening Pabrik Ketiga di Kendal, PT Maxindo.(Dok. MI)
BEROPERASINYA pabrik baru PT Maxindo Karya Anugerah Tbk di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah, membuka kebutuhan bahan baku singkong sekitar 100 ton per hari. Permintaan tersebut menjadi peluang bagi petani lokal untuk masuk ke rantai pasok industri makanan yang produknya dipasarkan ke sekitar 40 negara.
Presiden Direktur PT Maxindo Karya Anugerah Tbk Sarkoro Handajani mengatakan sebagian kebutuhan singkong perusahaan mulai dipasok oleh petani dari sejumlah wilayah di Kabupaten Kendal, termasuk Kaliwungu dan Boja.
Menurut Sarkoro, perusahaan tidak hanya membeli hasil panen, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas petani melalui pendampingan budidaya dan penggunaan varietas unggul.
“Semangat kami bukan sekadar membeli hasil panen petani, tetapi membantu meningkatkan pendapatan mereka melalui produktivitas yang lebih baik,” kata Sarkoro dalam pembukaan fasilitas produksi perusahaan di Kendal.
Untuk memperkuat pasokan bahan baku, perusahaan bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Institut Pertanian Bogor dalam pengembangan varietas ubi kayu dan ubi jalar. Riset tersebut diarahkan untuk menghasilkan tanaman dengan produktivitas lebih tinggi dan ketahanan yang lebih baik terhadap risiko gagal panen.
Perusahaan mengklaim penggunaan bibit unggul dapat meningkatkan hasil panen sekitar satu setengah hingga dua kali lipat dibandingkan varietas yang sebelumnya digunakan petani.
Sarkoro mengatakan perusahaan telah mengalokasikan investasi hingga miliaran rupiah untuk kegiatan riset dan pengembangan bibit. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepastian pasokan industri sekaligus memperbesar pendapatan petani.
Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN Ratih Asmana Ningrum mengatakan kolaborasi yang berlangsung sejak 2021 telah menghasilkan 11 varietas unggul ubi kayu yang telah terdaftar. Selain itu, terdapat 10 calon galur ubi jalar hasil rekayasa seluler yang masih menjalani pengujian lapangan.
Menurut Ratih, penerapan varietas unggul pada skala industri menjadi salah satu bentuk hilirisasi hasil riset yang dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Inovasi tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus mampu menciptakan nilai tambah ekonomi, meningkatkan daya saing industri, membuka lapangan kerja, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Pabrik di Kendal menjadi fasilitas produksi terbesar yang dimiliki PT Maxindo. Fasilitas tersebut berdiri di atas lahan sekitar 35.000 meter persegi dan dilengkapi lini produksi berbasis teknologi extrusion untuk meningkatkan kapasitas serta efisiensi proses manufaktur.
Lokasi pabrik yang berada sekitar dua kilometer dari pelabuhan ekspor juga dipilih untuk mempercepat distribusi produk ke pasar internasional.
Saat ini, produk perusahaan telah dipasarkan ke sekitar 40 negara di empat benua. Negara tujuan ekspor tersebut antara lain Amerika Serikat, Australia, China, Jepang, Belanda, Jerman, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, dan Kuwait.
Sarkoro menyebut permintaan dari pasar Amerika Serikat, Australia, Eropa, dan Timur Tengah terus meningkat. China juga kembali menjadi salah satu pasar ekspor perusahaan.
Dengan tambahan kapasitas dari pabrik Kendal, perusahaan optimistis dapat memenuhi pertumbuhan permintaan tersebut. Namun, peningkatan produksi juga akan bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan.
Selain melibatkan petani, perusahaan menargetkan sekitar 95% pekerja di pabrik berasal dari masyarakat sekitar. Saat ini, sekitar 90% tenaga kerja yang telah direkrut merupakan warga lokal.
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari meminta investasi industri yang masuk ke daerahnya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, baik melalui kesempatan kerja, kemitraan usaha, maupun penyerapan bahan baku pertanian lokal.
“Kami berharap masyarakat Kabupaten Kendal tidak hanya menjadi penonton bagi perusahaan-perusahaan yang berdiri di Kendal, tetapi ikut terlibat secara langsung,” kata Dyah.
Pemerintah Kabupaten Kendal juga mendorong perusahaan memperluas kerja sama dengan kelompok tani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Langkah tersebut diperlukan agar pertumbuhan kawasan industri tidak hanya meningkatkan aktivitas manufaktur, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.
Ke depan, PT Maxindo dan BRIN berencana melanjutkan pengembangan varietas unggul, penyediaan benih bermutu, budidaya presisi, inovasi pengolahan, serta produk berbasis ubi dengan nilai tambah lebih tinggi.
Keberhasilan program tersebut akan ditentukan oleh kemampuan perusahaan dan pemerintah daerah membangun kemitraan yang memberikan kepastian pasar, harga yang layak, dan peningkatan produktivitas bagi petani. Dengan kebutuhan mencapai 100 ton singkong setiap hari, keterlibatan petani lokal menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi sekaligus memperluas manfaat ekonomi industri berorientasi ekspor. (Z-10)

















































