Perwira Cadangan Israel Ungkap Kemerosotan Moral Tentara di Gaza

2 weeks ago 14
Perwira Cadangan Israel Ungkap Kemerosotan Moral Tentara di Gaza Tentara Israel menutup pintu masuk kawasan Kota Tua dengan barikade, membatasi pergerakan warga Palestina pada hari kedua Idul Adha di Hebron, Tepi Barat, Palestina pada 28 Mei 2026.(Wisam Hashlamoun/Anadolu Agency)

SERORANG perwira cadangan militer Israel mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kemerosotan moral yang dialami pasukan di tengah perang yang terus berlangsung di Jalur Gaza, Palestina. Menurutnya, ketidakjelasan tujuan operasi militer serta tekanan psikologis di medan perang telah memunculkan dilema moral yang semakin berat bagi para prajurit.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah surat yang dipublikasikan harian Israel Haaretz. Perwira yang tidak menyebutkan identitasnya itu mengaku saat ini memimpin satuan cadangan yang bertugas di Gaza.

"Saya tidak ingin menulis tentang beratnya tugas cadangan yang berulang atau dampaknya terhadap tubuh dan jiwa, meskipun itu merupakan persoalan penting. Saya justru ingin membahas nilai-nilai, karena saya menyaksikan kemerosotan moral yang sedang terjadi di dalam militer," tulisnya seperti dilansir, Selasa (7/7).

Menurut dia, moralitas merupakan inti dari kemanusiaan dan menjadi fondasi yang seharusnya tetap dijaga, bahkan di tengah konflik bersenjata.

Perwira tersebut menilai operasi militer Israel di Gaza kini berjalan tanpa sasaran yang jelas. "Tujuan misi kami tidak lagi jelas, bahkan tidak lagi didefinisikan, sehingga kami tidak memiliki ukuran untuk menilai keberhasilan," katanya.

Ia menggambarkan pasukan Israel saat ini berada dalam kondisi siaga tinggi karena selalu mengantisipasi serangan mendadak. Situasi itu, menurutnya, membuat para prajurit menghadapi berbagai dilema moral di lapangan.

"Karena kami menjalankan misi pertahanan, tingkat kewaspadaan dan rasa takut terhadap musuh yang bisa datang kapan saja sangat tinggi. Pola pikir seperti ini memunculkan banyak dilema moral," ujarnya.

Perwira itu juga mengakui bahwa sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, para prajurit cenderung menembak setiap warga Palestina yang mendekati posisi mereka.

"Kadang penembakan itu memang dibenarkan, tetapi kadang tidak. Apa pun alasannya, keputusan menembak sering terjadi karena prajurit di garis depan merasa terancam atau tidak aman," tulisnya.

Ia menambahkan bahwa cuaca yang sangat panas, kelelahan, dan perasaan bahwa operasi berlangsung tanpa hasil semakin memperburuk kondisi psikologis prajurit.

"Membunuh begitu banyak orang yang tidak bersenjata mulai memberikan dampak. Itu berdampak pada mereka, dan juga pada saya," ungkapnya.

Perwira tersebut juga mengkritik aturan pelibatan yang dinilainya semakin longgar selama perang berlangsung.

"Sekarang seolah-olah semuanya diperbolehkan, dan jari kami terlalu ringan menarik pelatuk. Aturan pelibatan yang tidak dibatasi memang memastikan tidak ada warga Gaza yang mencapai pagar perbatasan, tetapi dampaknya semakin besar terhadap diri kami, nilai-nilai kami, dan kondisi mental kami," tulisnya.

Perang di Gaza yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar dan memicu meningkatnya perhatian internasional terhadap dampak kemanusiaan maupun kondisi psikologis pasukan yang terlibat dalam konflik.

Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan tersebut, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan 173.000 lainnya terluka. Mayoritas korban adalah kaum perempuan dan anak. (Middle East Monitor/B-3) 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |