Lelehan permukaan percepat aliran gletser Antartika ke laut.(Dok. Magnific)
PENELITIAN terbaru yang dipimpin oleh Hokkaido University mengungkap mekanisme baru yang mempercepat pergerakan gletser Antartika menuju laut. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications ini menunjukkan bahwa air lelehan di permukaan es menjadi faktor kunci yang selama ini kurang terdeteksi di wilayah kutub selatan.
Selama ini, penyusutan massa es Antartika lebih banyak dikaitkan dengan penghangatan suhu laut yang mencairkan bagian bawah ice shelf (lapisan es terapung). Namun, studi ini membuktikan bahwa air lelehan di permukaan akibat kenaikan suhu udara turut berperan aktif dalam mempercepat aliran gletser.
Proses ini bermula saat salju dan es di permukaan mencair membentuk kolam air, yang kemudian meresap melalui retakan es melalui proses hydrofracturing. Air tersebut mengalir hingga mencapai dasar gletser sedalam lebih dari 550 meter, bertindak sebagai pelumas yang mengurangi gesekan antara es dan batuan dasar.
Berdasarkan data sensor tekanan dan kamera bawah es, air lelehan tersebut mampu menopang hingga 97 persen berat lapisan es. Kondisi ini mengakibatkan kecepatan aliran gletser menuju laut meningkat sekitar 10 hingga 20 persen selama periode pencairan intensif atau saat terjadi hujan di kawasan tersebut.
Fenomena ini sebelumnya lebih sering diamati di Greenland. Temuan di Antartika ini membantah anggapan bahwa suhu dingin ekstrem di kutub selatan dapat mencegah mekanisme serupa. Mengingat Antartika menyimpan 90 persen cadangan es dunia, percepatan aliran ini menjadi ancaman serius bagi kenaikan permukaan laut global.
Studi pendukung di jurnal Nature Climate Change memperingatkan bahwa pencairan ini kemungkinan besar akan terus berlanjut sepanjang abad ini, terlepas dari tercapainya target Perjanjian Paris. Dampaknya akan sangat terasa di wilayah pesisir dalam bentuk peningkatan risiko banjir rob dan abrasi.
Para ilmuwan kini mendesak adanya pemantauan jangka panjang yang lebih intensif melalui satelit dan sensor bawah es. Langkah ini diperlukan untuk meningkatkan akurasi proyeksi kenaikan air laut, mengingat setiap gletser memiliki respons yang berbeda terhadap perubahan suhu global. (Nature, ScienceDaily, dan Phys.org/Z-10)

















































