ilustrasi(Magnific)
PERNAHKAH Anda memikirkan kemungkinan terburuk dari suatu peristiwa, lalu pikiran tersebut terus berputar-putar di kepala meski situasi sudah berubah? Studi psikologi terbaru menunjukkan bahwa pikiran negatif makin sulit dilepaskan ketika saling berinteraksi dengan emosi buruk serta kebiasaan memikirkan masalah secara berulang (rumination).
Dilansir dari laporan Psychology Today, penelitian yang dipimpin Lisa M. W. Vos bersama Jonas Everaert, Ph.D., dari Tilburg University dan KU Leuven mengungkapkan bahwa seseorang kerap terjebak pada penafsiran negatif atas situasi yang sebenarnya masih ambigu.
Sebagai contoh, saat pesan singkat tak kunjung dibalas, seseorang awalnya menganggap temannya sibuk. Namun, begitu melihat teman tersebut aktif di media sosial, muncul asumsi bahwa dirinya sedang dihindari. Masalah utama terletak pada ketidakmampuan mengubah asumsi awal tersebut meski sudah ada informasi pembanding atau penjelasan baru.
Riset yang melibatkan 179 orang dewasa dengan tingkat gejala depresi dan kecemasan beragam ini berlangsung selama 14 hari. Melalui pemantauan enam kali sehari, peneliti mendapati bahwa partisipan dengan gejala depresi dan kecemasan sosial tinggi memiliki tingkat kesulitan paling besar untuk melepaskan penafsiran negatif.
Para peneliti menemukan adanya hubungan dua arah (reciprocal relationship) yang kuat antara pikiran dan emosi:
- Kesulitan melepaskan penafsiran negatif memicu lonjakan emosi negatif.
- Suasana hati (mood) yang memburuk membuat seseorang kian kukuh mempertahankan asumsi negatif pada situasi yang belum jelas.
- Kebiasaan ruminasi (memikirkan masalah berulang kali) memperkuat siklus ini, sehingga pikiran negatif kian mengkristal dan makin sulit diurai.
"Hubungan ini menunjukkan adanya pengaruh dua arah antara pikiran dan emosi yang saling memperkuat satu sama lain," jelas Asisten Profesor Psikologi Klinis Tilburg University, Jonas Everaert, Ph.D.
Temuan ini menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental tidak berarti seseorang harus selalu dipaksa berpikir positif. Hal yang jauh lebih krusial adalah membangun kemampuan fleksibilitas berpikir—yakni kesediaan meninjau kembali pikiran awal ketika muncul fakta baru.
Saat pikiran negatif hinggap, seseorang tidak wajib langsung menggantinya dengan pikiran positif, melainkan cukup mempertimbangkan penjelasan alternatif yang rasional.
Selain itu, pengelolaan emosi seperti mengurangi tekanan, menghentikan kebiasaan ruminasi, mencari dukungan sosial, hingga mengalihkan perhatian ke pengalaman positif dinilai dapat membantu seseorang berpikir lebih fleksibel. Walau demikian, para peneliti menggarisbawahi bahwa studi ini masih memetakan hubungan antarproses psikologis dan memerlukan riset lanjutan untuk menguji efektivitas strategi intervensi klinisnya.
(Ant/P-4)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9292877/original/058508100_1783663395-IMG_2546.jpg)





