Ilustrasi(Magnific)
Tidur bukan sekadar waktu bagi tubuh untuk beristirahat. Di balik aktivitas yang tampak sederhana tersebut, tubuh sebenarnya sedang melakukan berbagai proses pemulihan, termasuk menjaga kestabilan tekanan darah. Karena itu, kebiasaan begadang atau memiliki kualitas tidur yang buruk tidak hanya membuat tubuh mudah lelah, tetapi juga dapat meningkatkan risiko hipertensi.
Hal tersebut terungkap dalam penelitian yang dipublikasikan melalui laman Universitas Airlangga (Unair). Penelitian itu mengulas hasil riset mengenai hubungan antara kualitas tidur dengan risiko hipertensi pada masyarakat pedesaan di Kabupaten Madiun, Jawa Timur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan tidur bukan hanya menjadi persoalan masyarakat perkotaan. Masyarakat pedesaan juga menghadapi risiko serupa, bahkan kualitas tidur yang buruk terbukti berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan mengalami tekanan darah tinggi.
Hampir Empat dari Sepuluh Responden Memiliki Tidur Berkualitas Buruk
Penelitian melibatkan 71 orang dewasa berusia 18 tahun ke atas. Untuk menilai kualitas tidur, peneliti menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), yaitu instrumen yang umum digunakan dalam penelitian kesehatan tidur.
Dari hasil pengamatan, sebanyak 53,5% responden diketahui mengalami hipertensi. Sementara itu, sekitar 39,4% peserta memiliki kualitas tidur yang buruk.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa hampir empat dari sepuluh responden memiliki pola tidur yang tidak sehat. Analisis penelitian juga menemukan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas tidur yang buruk dengan meningkatnya risiko hipertensi.
Dewasa Muda Lebih Rentan Mengalami Hipertensi Akibat Tidur Buruk
Selama ini hipertensi sering dikaitkan dengan kelompok lanjut usia. Namun, penelitian justru menemukan bahwa orang dewasa berusia hingga 40 tahun yang memiliki kualitas tidur buruk menghadapi risiko hipertensi sekitar 3,11 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lanjut di atas 60 tahun yang juga mengalami gangguan tidur.
Sebaliknya, pada kelompok lansia, peningkatan risikonya tercatat sekitar 1,27 kali lipat.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa usia muda bukan jaminan terhindar dari hipertensi apabila pola tidur terus diabaikan. Aktivitas seperti begadang, menggunakan media sosial hingga larut malam, menonton televisi, maupun pekerjaan yang mengharuskan bangun sangat pagi dapat memengaruhi kualitas tidur jika berlangsung terus-menerus.
Penelitian juga menemukan bahwa hubungan antara kualitas tidur dan hipertensi tetap terlihat meskipun peneliti telah memperhitungkan berbagai faktor lain yang selama ini dikenal memengaruhi tekanan darah.
Faktor-faktor tersebut meliputi jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), riwayat hipertensi dalam keluarga, hingga kebiasaan merokok.
Artinya, kualitas tidur yang buruk merupakan faktor risiko yang independen terhadap hipertensi. Dengan kata lain, seseorang tetap berpotensi mengalami tekanan darah tinggi akibat tidur yang tidak berkualitas meskipun memiliki berat badan ideal, tidak merokok, dan tidak memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga.
Mengapa Kurang Tidur Bisa Meningkatkan Tekanan Darah?
Secara fisiologis, tubuh akan memasuki fase pemulihan ketika seseorang tidur dengan nyenyak. Pada fase ini, tekanan darah secara alami akan menurun sekitar 10 hingga 20%. Kondisi tersebut dikenal sebagai nocturnal dipping.
Namun, apabila seseorang mengalami gangguan tidur atau tidurnya tidak berkualitas, penurunan tekanan darah tersebut tidak terjadi secara optimal.
Akibatnya, jantung dan pembuluh darah terus bekerja lebih keras sepanjang malam tanpa memperoleh waktu pemulihan yang cukup. Jika berlangsung dalam waktu lama, kondisi ini dapat meningkatkan kekakuan pembuluh darah, menambah beban kerja jantung, dan akhirnya menyebabkan tekanan darah menetap pada tingkat yang tinggi.
Cara Menjaga Kualitas Tidur
Penelitian ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga kualitas tidur merupakan bagian penting dari upaya mencegah hipertensi.
Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan antara lain tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, termasuk saat akhir pekan, menciptakan suasana kamar yang tenang dan gelap, serta menghindari penggunaan ponsel maupun menonton televisi sekitar satu jam sebelum tidur.
Selain itu, membatasi konsumsi minuman berkafein pada sore hingga malam hari juga dianjurkan karena efek kafein dapat bertahan selama beberapa jam. Menghindari makan dalam porsi besar menjelang tidur juga dapat membantu tubuh memperoleh istirahat yang lebih berkualitas. Sumber: Universitas Airlangga

















































