PERHIMPUNAN Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) menilai penyebutan "londo ireng" oleh Presiden Prabowo Subianto terhadap para pengkritiknya semakin menegaskan sikap yang anti-kritik. Prabowo menyematkan label itu kepada wartawan, pengamat, organisasi masyarakat sipil, dan pihak lain yang mengkritik pemerintah.
Ketua Badan Pengurus Nasional PBHI, Kahar Muamalsyah, mengatakan pelabelan terhadap kelompok masyarakat yang menjalankan fungsi pengawasan publik merupakan bentuk stigmatisasi terhadap penggunaan hak konstitusional warga negara. "Dalam negara demokrasi, kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari mekanisme checks and balances, bukan tindakan permusuhan terhadap negara maupun pemerintah," kata Kahar dalam keterangan tertulisnya pada Ahad, 26 Juli 2026.
Menurut Kahar, kritik merupakan hak konstitusional warga negara sekaligus prasyarat utama demokrasi yang sehat. Demokrasi, kata dia, tidak dibangun melalui pelabelan terhadap mereka yang berbeda pendapat, melainkan melalui penghormatan terhadap kebebasan sipil, keterbukaan terhadap kritik, serta kesediaan pemerintah mempertanggungjawabkan kebijakannya kepada publik.
"Demokrasi justru mengandaikan adanya ruang bagi warga negara untuk menguji, mengawasi, mengkritik, dan mengevaluasi penyelenggaraan kekuasaan," ujar Kahar.
Kahar juga mengatakan Presiden sebagai pemegang mandat konstitusional seharusnya merespons kritik sebagai bagian dari dinamika demokrasi dan wujud partisipasi warga negara. Menurut dia, Presiden harus berhenti merespons kritik publik dengan retorika politik yang menghina pengkritik, memberikan label dan stigma, membungkam partisipasi publik, serta mempersempit ruang sipil dalam demokrasi.
"Presiden di negara demokratis mesti melindungi para pengkritiknya, bukan menjadikan kritik sebagai alasan untuk membangun retorika dan narasi permusuhan serta penghinaan terhadap warga negara," kata Kahar.
Presiden Prabowo Subianto melontarkan sebutan "londo ireng" kepada para pengkritik kebijakannya saat menyampaikan pidato pada puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kamis, 23 Juli 2026. Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan ada orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. "Itu yang dulu kita sebut londo ireng, yang ikut Belanda perang melawan kita. Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada," ujar Prabowo di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada Kamis malam.
Ketua Umum Partai Gerindra itu kemudian mengklaim kelompok tersebut kini hadir dalam berbagai bentuk. "Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM," kata Prabowo.
Pilihan Editor: Peran Elite di Sekitar Presiden dalam Konflik Polisi-Jaksa















































