Pakar Ungkap Bahaya Abu Vulkanik setelah Erupsi Selesai

5 hours ago 2
Pakar Ungkap Bahaya Abu Vulkanik setelah Erupsi Selesai Warga menunjukkan abu vulkanik di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026).(ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

KEWASPADAAN masyarakat terhadap bahaya abu vulkanik diimbau tidak berhenti ketika letusan gunung api telah usai. Partikel debu vulkanik yang menumpuk di tanah, jalanan, dan atap rumah tetap berpotensi terangkat kembali ke udara (resuspensi) akibat hembusan angin, aktivitas kendaraan, serta proses pembersihan permukiman.

Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM, menegaskan bahwa ancaman kesehatan akibat abu vulkanik dapat bertahan dalam hitungan hari hingga berminggu-minggu sampai abu benar-benar bersih atau tersapu hujan.

"Abu vulkanik bukan debu biasa. Partikelnya tajam, bersudut, mengandung silika, dan sebagian berukuran sangat halus (PM10 dan PM2.5) sehingga bisa terhirup sampai ke saluran napas bawah bahkan alveolus," ujar Dr. Sukamto saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (8/9).

Dr. Sukamto yang juga Dosen Tetap FKUI/RSCM ini merinci bahwa paparan partikel mikroskopis PM2.5 dan PM10 memicu gangguan kesehatan pada berbagai organ tubuh. 

  • Sistem Pernapasan: Memicu iritasi hidung, batuk kering, sesak napas, hingga eksaserbasi (serangan akut) pada penderita asma, Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK), bronkitis kronis, dan rinitis alergi. Iritasi mukosa juga melemahkan sistem imun lokal sehingga meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
  • Kardiovaskular (Jantung): Partikel PM2.5 berpotensi menembus sirkulasi darah dan memicu perburukan kondisi penderita penyakit jantung.
  • Mata dan Kulit: Memicu konjungtivitis, mata merah, hingga lecet kornea akibat partikel tajam. Pengguna lensa kontak disarankan beralih sementara ke kacamata. Pada kulit, abu yang bersifat asam atau bercampur keringat berisiko memicu dermatitis dan gatal-gatal.
  • Pencernaan: Risiko gangguan sistem pencernaan muncul apabila abu mengontaminasi sumber air minum dan bahan makanan terbuka.

Guna menekan risiko komplikasi infeksi paru pada penderita penyakit kronis dan lansia, PAPDI mengimbau masyarakat untuk melengkapi status vaksinasi influenza dan pneumokokus.

Rekomendasi Alat Pelindung Diri

Untuk menangkal paparan partikel mikroskopis, Dr. Sukamto merekomendasikan penggunaan masker medis standar tinggi seperti jenis N95, KN95, atau FFP2. Kunci efektivitas penyaringan tidak hanya terletak pada bahan masker, melainkan pada kerapatan segel (fit test) di area hidung dan pipi agar tidak menyisakan celah udara.

Peringatan medis ini mengemuka menyusul aktivitas erupsi serentak sejumlah gunung api aktif di Indonesia, seperti Gunung Anak Krakatau, Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, dan Sinabung.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda per 7 September 2026 pukul 15.00 WIB teridentifikasi mengarah ke empat provinsi utama, yakni Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Penderita penyakit kronis di wilayah terdampak diimbau selalu membawa obat pengontrol/inhaler serta segera mendatangi fasilitas kesehatan jika mengalami gejala sesak memberat.

(Ant/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |