Orangutan mati akibat karhutla, begini dampaknya bagi satwa

11 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Kisah Sempurna menjadi kabar memilukan di tengah karhutla yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan. Orangutan Kalimantan jantan dewasa itu ditemukan dalam kondisi sangat lemah dan mengalami gangguan pernapasan di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Minggu (30/8).

Warga yang menemukan Sempurna kemudian melaporkan keberadaannya kepada petugas. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) langsung melakukan evakuasi. Sempurna sempat mendapatkan terapi oksigen dan cairan intravena, tetapi kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB.

Nekropsi yang dilakukan pada 1 September menemukan perubahan patologis pada sejumlah organ, termasuk paru-paru, jantung, dan ginjal. Pada paru-paru ditemukan kongesti dan atelektasis parsial. Berdasarkan riwayat kondisi klinis dan hasil pemeriksaan, perubahan tersebut diduga berkaitan dengan paparan asap yang berpotensi mengganggu fungsi paru-paru dan menyebabkan hipoksia akut atau kekurangan oksigen. Kondisi itu kemudian diduga berkontribusi terhadap gangguan fungsi kardiovaskular hingga menyebabkan kematian Sempurna.

Kematian Sempurna membuat satu hal menjadi semakin jelas bagi orangutan, hutan yang terbakar bukan lagi sekadar lingkungan yang berubah. Rumah mereka bisa berubah menjadi tempat yang tidak lagi aman untuk dihuni.

Bagi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), hutan memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat berlindung.

Pepohonan menjadi tempat orangutan mencari makanan, bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain, beristirahat, hingga membuat sarang. Ketika kondisi hutan sehat, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari lingkungan sekitarnya.

Masalah muncul ketika hutan mengalami kerusakan.

Karhutla dapat menghilangkan pepohonan dan vegetasi yang menjadi sumber makanan. Api juga dapat memutus bagian-bagian habitat sehingga kawasan yang sebelumnya terhubung berubah menjadi petak-petak hutan yang terpisah.

Bagi satwa yang membutuhkan ruang untuk bergerak dan mencari makan, perubahan tersebut tentu bukan persoalan kecil.

Hutan yang masih berdiri pun belum tentu sepenuhnya aman apabila dikelilingi asap tebal atau berada di dekat kawasan yang terbakar.

Baca juga: Sebelum mati, Orangutan Sempurna ditemukan kritis di kebun sawit

Ketika rumah harus ditinggalkan

Orangutan yang keluar dari hutan sering kali dianggap sebagai satwa yang memasuki wilayah manusia. Padahal, ada alasan yang lebih mendasar di balik pergerakan tersebut.

Ketika sumber makanan berkurang atau habitat terganggu, orangutan perlu mencari tempat lain untuk bertahan hidup.

Perjalanan itu dapat membawa mereka ke perkebunan, lahan masyarakat, atau kawasan yang berdekatan dengan permukiman. Di satu sisi, orangutan sedang berusaha menyelamatkan diri. Di sisi lain, kehadiran satwa liar di wilayah manusia dapat memunculkan potensi konflik.

Kondisi tersebut pernah terjadi di Ketapang. Pada Agustus 2026, tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Gunung Palung, YIARI, dan masyarakat mengevakuasi tiga individu orangutan dari perkebunan masyarakat yang terdampak karhutla.

Peristiwa seperti itu menunjukkan bahwa ketika hutan tidak lagi menyediakan ruang yang aman, batas antara habitat satwa dan kawasan manusia dapat menjadi semakin tipis.

Salah satu persoalan karhutla adalah dampaknya tidak berakhir ketika api berhasil dipadamkan.

Hutan membutuhkan waktu untuk kembali tumbuh. Pohon yang terbakar tidak langsung menghasilkan buah. Vegetasi yang menjadi sumber makanan juga membutuhkan waktu untuk pulih.

Bagi orangutan, kondisi tersebut berarti masa pemulihan habitat dapat menjadi masa yang sulit.

Mereka mungkin masih harus berpindah mencari makanan meskipun kobaran api sudah tidak terlihat. Jika kawasan hutan yang terbakar luas, perjalanan untuk menemukan sumber makanan baru bisa menjadi semakin jauh.

Kondisi ini juga dapat meningkatkan tekanan terhadap orangutan yang hidup di sekitar kawasan hutan yang telah terfragmentasi.

Baca juga: BKSDA Jambi rehabilitasi 5 Orangutan Sumatera hasil penyelamatan

Asap membuat keadaan semakin sulit

Kematian Sempurna juga memperlihatkan bahwa ancaman karhutla tidak selalu datang dalam bentuk api yang menyentuh tubuh satwa.

Asap dapat menjadi persoalan tersendiri.

Sempurna ditemukan dalam kondisi mengalami gangguan pernapasan. Hasil pemeriksaan setelah kematiannya menunjukkan perubahan pada paru-paru yang diduga berkaitan dengan paparan asap dan kekurangan oksigen.

Artinya, orangutan yang berada di sekitar kawasan terbakar dapat menghadapi risiko meskipun mereka tidak berada tepat di titik api.

Asap yang memenuhi habitat juga dapat membuat kondisi lingkungan menjadi semakin tidak nyaman bagi satwa. Mereka harus mencari lokasi yang lebih aman sekaligus tetap memenuhi kebutuhan makan dan berlindung.

Untuk orangutan yang tidak dapat meninggalkan kawasan dengan cepat, situasi tersebut menjadi tantangan serius.

Ancaman datang bertubi-tubi

Karhutla sebenarnya bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi orangutan Kalimantan.

Satwa ini juga berhadapan dengan penyusutan dan fragmentasi habitat, perubahan penggunaan lahan, serta konflik dengan manusia.

Ketika berbagai tekanan tersebut terjadi secara bersamaan, kemampuan orangutan untuk bertahan menjadi semakin sulit.

Bayangkan sebuah kawasan hutan yang sebelumnya cukup luas untuk menyediakan makanan dan tempat berlindung. Kemudian sebagian kawasan berubah menjadi perkebunan, sementara bagian lainnya mengalami kebakaran.

Ruang yang tersisa menjadi semakin kecil.

Jika kebakaran kembali terjadi, ruang tersebut dapat kembali menyusut. Pada akhirnya, orangutan memiliki semakin sedikit pilihan untuk mencari tempat aman.

Baca juga: Apa yang dilakukan orangutan kesehariannya di hutan Kalimantan?

Masa depan orangutan bergantung pada hutannya

Melindungi orangutam tidak cukup hanya dengan menyelamatkan satwa yang ditemukan dalam kondisi kritis.

Evakuasi tetap penting. Rehabilitasi juga penting. Namun, langkah tersebut harus dibarengi dengan menjaga habitat tempat orangutan hidup.

Pencegahan karhutla menjadi salah satu bagian penting dari upaya tersebut. Hutan yang tidak terbakar berarti sumber makanan tetap tersedia, pepohonan tetap berdiri, dan orangutan memiliki ruang untuk hidup tanpa harus mendekati kawasan manusia.

Pemulihan hutan yang sudah rusak juga tidak kalah penting. Kawasan yang telah terbakar membutuhkan waktu untuk kembali menjadi habitat yang mendukung kehidupan satwa.

Karena itu, upaya konservasi orangutan pada dasarnya bukan hanya tentang menyelamatkan seekor satwa. Yang diselamatkan adalah ekosistem yang menjadi rumah bagi mereka.

Sempurna menjadi pengingat

Sempurna memang tidak berhasil diselamatkan. Namun, kisahnya menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat mencapai jauh lebih luas daripada lahan yang terlihat hangus.

Di balik hutan yang terbakar, ada satwa yang kehilangan tempat tinggal. Di balik asap yang menyelimuti kawasan, ada satwa yang harus berjuang mendapatkan udara yang cukup. Dan ketika sumber makanan hilang, ada pula orangutan yang terpaksa meninggalkan habibtatnya.

Kabar kematian Sempurna sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga orangutan berarti menjaga rumahnya.

Sebab, orangutan tidak membutuhkan hutan yang sekadar terlihat hijau dari kejauhan. Mereka membutuhkan hutan yang benar-benar bisa menyediakan makanan, tempat berlindung, ruang bergerak, dan udara yang cukup bersih untuk hidup.

Jika hutan terus berubah menjadi tempat yang tidak ramah, maka pertanyaan tentang masa depan orangutan Kalimantan bukan lagi sekadar berapa banyak orangutan yang tersisa.

Pertanyaannya adalah, masih adakah rumah yang ramah untuk mereka?

Baca juga: Kemenhut perkuat call center penyelamatan satwa terdampak karhutla

Baca juga: Bukan hanya manusia, ini dampak asap kebakaran hutan bagi orangutan

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |