Jakarta, CNN Indonesia --
Pemimpin partai oposisi Taiwan, Cheng Li-wun akan mengunjungi China pada Selasa (7/4). Cheng Li-wun berkunjung ke China atas undangan Presiden Xi Jinping.
Cheng Li-wun, akan menjadi Ketua partai oposisi utama Taiwan, Kuomintang (KMT) pertama yang melakukan perjalanan ke China dalam satu dekade.
Mengutip AFP, Minggu (5/4) ia ingin bertemu Presiden China Xi Jinping untuk membangun "perdamaian" lintas selat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertemuan itu mendapat respon dari sejumlah pihak di Taiwan, para pejabat dan pakar Taiwan menilai Xi melihat peluang untuk memperkuat posisi Cheng di KMT dan menghambat penjualan senjata AS ke Taiwan.
KMT telah lama "menganjurkan" pendekatan yang lebih bersahabat dengan Beijing sebagai landasan bagi hubungan damai di Selat Taiwan. Ini untuk merespons China mengklaim Taiwan sebagai bagian integral dari wilayahnya sendiri.
Cheng, yang naik ke puncak KMT sebelumnya mendapat ucapan selamat dari Xi pada Oktober, telah mendapat kritikan oleh para politisi Taiwan, termasuk di dalam partainya karena terlalu pro-China.
Kunjungan Cheng terjadi ketika Amerika Serikat -pendukung keamanan terpenting Taiwan- meningkatkan tekanan pada anggota parlemen oposisi Taiwan untuk menyetujui proposal pembelian pertahanan, termasuk senjata AS senilai miliaran dolar, untuk mencegah potensi serangan Tiongkok.
Pemimpin KMT, yang telah mengecam rencana pemerintah senilai US$39 miliar, menghadapi perpecahan yang semakin dalam di dalam partainya mengenai cara melawan ancaman militer Tiongkok.
Cheng mendukung proposal KMT untuk mengalokasikan anggaran besar untuk senjata AS dengan opsi untuk akuisisi lebih lanjut, tetapi tokoh senior yang lebih moderat di partai tersebut mendorong anggaran yang jauh lebih tinggi.
Beijing melihat "kebutuhan untuk menyelamatkan Cheng Li-wun" dari "krisis kekuasaan," kata Albert Tzeng, mantan penasihat KMT, kepada AFP.
Tzeng menilai, dukungan Xi terhadap Cheng akan membuat para lawan politiknya waspada untuk menyerangnya.
"Dan Xi, yang telah mengaitkan penguasaan Taiwan dengan visinya tentang "kebangkitan besar bangsa Tiongkok", dapat menunjukkan bahwa Beijing "tidak sepenuhnya kehilangan Taiwan kepada Amerika Serikat", katanya.
Badan intelijen tertinggi Taiwan memperingatkan bahwa Beijing telah "memanggil" Cheng dengan tujuan untuk memutus pembelian militer Taiwan dari AS dan kerja sama dengan negara lain.
"Singkatnya, niat Beijing adalah untuk menginternalisasi masalah lintas selat, memperlakukannya sebagai masalah domestik bagi China, dengan intervensi asing dilarang," kata juru bicara Dewan Urusan Daratan (MAC) Taiwan, Liang Wen-chieh, pada Kamis (2/4).
Sementara itu, Cheng menyanggah bahwa kunjungan ini sepenuhnya untuk perdamaian dan stabilitas lintas selat, jadi tidak ada hubungannya dengan pengadaan senjata atau masalah lainnya.
(tim/mik)
Add
as a preferred source on Google

9 hours ago
4











































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390165/original/033586000_1761235850-Persib_Bandung_1.jpeg)





