Ilustrasi.(Magnific)
PERKEMBANGAN artificial intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir banyak membantu manusia memahami teks, gambar, dan dunia digital. Namun, PT Niriksagara Jaya Abadi mengambil tantangan berbeda: bagaimana AI dapat membantu manusia memahami dunia fisik dan menentukan langkah strategis berikutnya.
Mulai dari jalan yang rusak, kondisi bangunan, progres konstruksi, akses kawasan, hingga berbagai aset fisik lainnya, Niriksagara mengembangkan teknologi yang menggabungkan AI, computer vision, geospatial intelligence, kamera 360°, drone, serta berbagai sumber data lapangan.
Tujuannya bukan sekadar menghasilkan laporan inspeksi. Niriksagara ingin membantu menjawab pertanyaan yang lebih besar: aset yang paling kritis, yang harus ditangani terlebih dahulu, dan area anggaran atau investasi dapat memberikan dampak paling besar.
"AI tidak seharusnya berhenti pada kemampuan melihat sebuah masalah. AI harus membantu manusia memahami tingkat urgensinya dan menentukan apa yang perlu dilakukan berikutnya," ujar manajemen Niriksagara.
Dari Deteksi Menuju Decision Intelligence
Pada tahap awal, pengembangan Niriksagara banyak berfokus pada penggunaan computer vision untuk membaca kondisi jalan dan aset fisik secara otomatis. Namun, perusahaan melihat bahwa kemampuan mendeteksi kerusakan hanyalah satu bagian kecil dari persoalan.
Setelah kerusakan teridentifikasi, pemerintah, pemilik aset, maupun perusahaan tetap harus menentukan seberapa berat kondisinya, siapa yang terdampak, berapa tingkat urgensinya, serta di mana anggaran harus diprioritaskan. Dari kebutuhan tersebut, Niriksagara mengembangkan pendekatan AI Decision Intelligence for the Physical World.
Prosesnya dibangun mulai dari Capture - Detect - Score - Prioritize - Recommend. Dengan alur ini, data lapangan dapat diolah menjadi condition score, severity analysis, priority map, monitoring dashboard, hingga rekomendasi keputusan.
Data kondisi fisik juga dapat dikombinasikan dengan konteks lain seperti aksesibilitas, aktivitas ekonomi, keberadaan fasilitas publik, risiko wilayah, serta karakteristik lokasi.
"Kami tidak ingin AI hanya mengatakan bahwa suatu jalan rusak. Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting: seberapa kritis kerusakannya, siapa yang terdampak, apa konsekuensinya, dan mana yang harus diperbaiki terlebih dahulu," lanjut manajemen Niriksagara. (I-2)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9292877/original/058508100_1783663395-IMG_2546.jpg)





