Menteri Besar Selangor Amirudin Shari menyerukan penguatan kerjasama antara Malaysia dan Indonesia dalam menjaga Selat Malaka.(MI/Bayu Anggoro)
MENTERI Besar Selangor, Amirudin Shari, menyerukan penguatan kerja sama antara Malaysia dan Indonesia dalam menjaga keamanan Selat Malaka. Seruan ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik global yang dinilai mengancam stabilitas jalur perdagangan tersibuk di dunia tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan Amirudin dalam pidatonya pada penyelenggaraan Selangor International Business Summit (SIBS) @Asean 2026 yang berlangsung di Bandung, 9-10 Juli. Ia menegaskan bahwa Selat Malaka bukan sekadar jalur perlintasan kapal, melainkan urat nadi ekonomi global yang vital.
"Jika selat ini terganggu dengan kegilaan pihak luar, atau ada hasrat dari kekuatan mana pun yang ingin menguasai, saya tegaskan di sini, kita harus melihat kepentingan kedamaian ini dari aspek geopolitik," ujar Amirudin. Ia menekankan bahwa bagi Malaysia dan Indonesia, Selat Malaka adalah aset kedaulatan yang harus dikelola secara bersama-sama.
Amirudin juga menyoroti konflik di Selat Hormuz yang telah memicu krisis energi di berbagai belahan dunia. Menurutnya, peristiwa tersebut harus menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara di Asia Tenggara agar tidak mengalami dampak serupa akibat gangguan di wilayah sendiri.
"Bagi saya, terhadap Bapak Datuk Seri Anwar Ibrahim (PM Malaysia) dan Bapak Prabowo (Presiden Indonesia), serta pimpinan lainnya, kita harus melindungi. Ini milik kita di Nusantara, di Asia Tenggara. Jangan biarkan siapa pun mengganggu, jangan biarkan siapa pun menetapkan aturan, ini harus dipimpin dan dijaga oleh kita bersama," tegasnya.
Transformasi Paradigma ASEAN
Lebih lanjut, Amirudin menilai sudah saatnya negara-negara anggota ASEAN meninggalkan paradigma pertemuan rutin yang hanya bersifat administratif. Ia mendesak para pemimpin kawasan untuk membangun kesepahaman kenegaraan yang lebih intensif dan memiliki kekuatan regulasi yang mengikat.
Langkah ini dianggap krusial untuk memastikan stabilitas kawasan di masa depan. "Bukan hanya untuk melindungi bisnis, tetapi bagaimana memastikan perputaran barang di seluruh dunia tidak terganggu. ASEAN harus beranjak agar hubungannya lebih konstruktif," pungkasnya. (BY/I-1)

















































