Menkes Tegaskan Pengobatan Kusta Gratis

2 weeks ago 14
Menkes Tegaskan Pengobatan Kusta Gratis Seorang pasien kusta yang menjadi juru parkir di Kampung Kusta, Tangerang( BAY ISMOYO / AFP)

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengajak masyarakat menghilangkan stigma terhadap penyandang dan penyintas kusta. Edukasi mengenai penyakit ini dinilai penting agar penderita tidak ragu memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan sedini mungkin. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kusta merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, bukan kutukan. Ia mengatakan pengobatan kusta telah tersedia secara gratis di fasilitas pelayanan kesehatan.

"Kusta tidak perlu ditakuti. Begitu pasien mulai menjalani pengobatan, risiko penularannya langsung menurun secara signifikan. Karena itu yang paling penting adalah menemukan kasus sedini mungkin," kata Menkes di Jakarta, Jumat (10/7).

Menurut Budi, tantangan terbesar dalam penanggulangan kusta bukan hanya penemuan kasus, tetapi juga stigma yang masih melekat di masyarakat. Akibatnya, banyak penderita terlambat mencari pengobatan hingga mengalami kecacatan yang sebenarnya dapat dicegah apabila penyakit ditemukan lebih awal.

Senada dengan itu, Honorary Chair The Nippon Foundation sekaligus WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, menilai penghapusan diskriminasi harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya eliminasi kusta. Menurutnya, keberhasilan penanganan penyakit ini tidak hanya diukur dari jumlah pasien yang sembuh, tetapi juga dari hilangnya perlakuan diskriminatif terhadap penyintas dan keluarganya.

Pesan tersebut turut diperkuat oleh penyintas kusta, Syamsul, yang membagikan pengalamannya menghadapi stigma sejak usia dini. Ia mengaku pernah mengalami perundungan hingga perlakuan tidak manusiawi karena rendahnya pemahaman masyarakat mengenai kusta.

Syamsul berharap penyintas kusta memperoleh hak yang sama dalam mengakses pendidikan, layanan kesehatan, kesempatan bekerja, serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

"Kami bukan sekadar penerima bantuan. Kami ingin menjadi bagian dari pembangunan dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya," ujarnya.

Melalui konferensi nasional tersebut, Kementerian Kesehatan mengajak pemerintah daerah, tokoh agama, institusi pendidikan, media massa, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun pemahaman yang benar mengenai kusta. Dengan meningkatnya pengetahuan publik terhadap kusta, diharapkan tidak ada lagi penyintas yang mengalami diskriminasi. (H-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |