Donald Trump mengancam akan menggempur Gunung Pickaxe di Iran. Area ini diduga menjadi situs nuklir bawah tanah yang sangat dalam dan sulit ditembus bom AS.(Vantor)
GUNUNG Pickaxe di Iran tengah, yang dijuluki Pickaxe Mountain, menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menggempurnya. Trump menyatakan bahwa pasukan AS akan segera menghantam gunung tersebut "sangat keras", setelah sebelumnya menyebut lokasi itu sebagai target potensial.
Pemerintah Iran membantah adanya aktivitas nuklir di lokasi tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa tuduhan Trump hanyalah alasan yang dibuat-buat untuk melakukan agresi.
"Dua alasan yang dibuat-buat untuk melakukan agresi."
Gunung Pickaxe terletak dekat dengan kompleks pengayaan nuklir Natanz yang pernah diserang tahun lalu dalam perang 12 hari antara AS, Israel, dan Iran. Menurut pakar Barat, pembangunan kompleks di bawah tanah granit Gunung Pickaxe dimulai pada 2020 usai kebakaran di ruang perakitan sentrifugal Natanz yang diduga akibat sabotase.
Kala itu, Kepala Program Nuklir Iran, Ali Akbar Salehi, mengonfirmasi bahwa ruangan baru akan dibangun "di jantung gunung" dekat Natanz.
Kedalaman Bawah Tanah dan Tantangan Militer
Pada Juni tahun lalu, AS menggunakan bom pembusuk bunker GBU-57 untuk menembus situs Natanz dan Fordo. Namun, menurut Institute for Science and International Security (ISIS), Gunung Pickaxe belum pernah diserang, termasuk dalam perang yang meletus pada 28 Februari.
Pakar hubungan internasional Mohammad Hassan Najmi menyebut Iran berencana memindahkan instalasi lebih dalam ke bawah Gunung Pickaxe setelah situs Fordo dihantam bom. Analisis citra satelit ISIS per 14 Juli menunjukkan instalasi baru tersebut berada setidaknya 100 meter di bawah tanah, masih dalam tahap pengerjaan, dan belum beroperasi.
Pakar isu nuklir dari Carnegie Foundation, James Acton, menilai kedalaman tersebut berada di luar jangkauan penetrasi bom GBU-57 milik AS. Ia menjelaskan bom tersebut mungkin dapat menghancurkan terowongan akses, tetapi hal itu tidak menjadi penentu utama.
Meskipun demikian, ISIS memperkirakan ruang di bawah gunung tersebut cukup luas untuk menampung pabrik pengayaan sentrifugal yang mampu memproduksi uranium tingkat senjata.
Laporan The Wall Street Journal menyebutkan intelijen Israel telah meyakinkan AS bahwa ribuan sentrifugal telah dipindahkan ke bawah Gunung Pickaxe pada musim gugur lalu. Pengungkapan ini menjadi krusial di tengah fokus Trump pada pembukaan kembali Selat Hormuz, sementara isu nuklir tetap menjadi prioritas utama bagi Israel. (AFP/Z-2)

















































