Jakarta (ANTARA) - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi menerus hingga sekitar 25 jam pada 4–6 September 2026. Abu vulkaniknya terpantau menyebar ke lima provinsi, sementara status gunung masih berada pada Level III atau Siaga.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang memiliki sejarah panjang dan tidak dapat dipisahkan dari letusan dahsyat Krakatau pada 1883. Aktivitas vulkaniknya kembali menjadi perhatian setelah erupsi terbaru berdampak pada sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra.
Berawal dari letusan Krakatau 1883
Sejarah Gunung Anak Krakatau berkaitan erat dengan kompleks vulkanik Krakatau yang mengalami letusan besar pada 1883. Letusan tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau dan membentuk kaldera di kawasan Selat Sunda.
Peristiwa tersebut juga memicu tsunami besar yang menerjang wilayah pesisir Banten dan Lampung. Kementerian ESDM mencatat korban jiwa akibat letusan dan tsunami 1883 mencapai lebih dari 36.000 orang.
Setelah letusan besar tersebut, aktivitas vulkanik kemudian membentuk gunung api baru di kawasan kaldera yang dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.
Baca juga: Menhub siapkan 10 bandara 24 jam untuk percepat pemulihan penerbangan
Muncul ke permukaan pada 1929
Aktivitas erupsi Anak Krakatau mulai tercatat pada 1927 ketika aktivitas vulkaniknya masih berada di bawah permukaan laut. Gunung tersebut kemudian mulai muncul ke permukaan pada 1929.
Sejak kemunculannya, Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan akibat penumpukan material hasil aktivitas vulkanik. Gunung tersebut pun menjadi salah satu gunung api aktif yang terus dipantau oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Pernah memicu tsunami pada 2018
Salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Anak Krakatau terjadi pada 22 Desember 2018.
Saat itu, sebagian tubuh gunung mengalami longsor ke laut ketika aktivitas erupsi berlangsung. Longsoran tersebut memicu perpindahan massa air dan menghasilkan tsunami yang menerjang wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Peristiwa tersebut menyebabkan lebih dari 400 orang meninggal dunia dan menjadi pengingat bahwa aktivitas gunung api di tengah laut memiliki potensi bahaya yang berbeda dibandingkan gunung api di daratan.
Baca juga: Polres Cianjur bersihkan abu vulkanik dengan dua water canon
Anak Krakatau kembali erupsi September 2026
Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat pada awal September 2026. Berdasarkan keterangan terbaru PVMBG, episode erupsi menerus mulai terekam pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Dengan demikian, episode erupsi tersebut berlangsung sekitar 25 jam. Setelah erupsi menerus berakhir, PVMBG masih mencatat satu erupsi susulan bertipe Strombolian pada 6 September pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.
Selama periode tersebut, aktivitas vulkanik Anak Krakatau terpantau melalui rekaman seismik dan kamera pemantauan. Pada malam hari terlihat kolom erupsi berwarna merah, sedangkan pada siang hari tampak kepulan berwarna kehitaman.
PVMBG mencatat energi aktivitas vulkanik sempat meningkat pada 5 September, kemudian menunjukkan tren penurunan pada 6 September. Meski episode erupsi menerus telah berakhir, status aktivitas gunung tetap Level III atau Siaga.
Abu vulkanik menyebar ke lima provinsi
Erupsi terbaru Anak Krakatau menyebabkan sebaran abu vulkanik meluas. Badan Geologi menyebut abu vulkanik terpantau menyebar ke lima provinsi, yaitu:
- Banten
- Jawa Barat
- DKI Jakarta
- Lampung
- Bengkulu
Sebaran tersebut terpantau melalui analisis Badan Geologi, PVMBG, VAAC Darwin, serta pengamatan satelit.
Kondisi tersebut juga berdampak terhadap aktivitas penerbangan. Sejumlah bandara sempat mengalami gangguan operasional akibat sebaran abu vulkanik. Laporan Reuters menyebut abu bahkan mencapai ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki, sehingga sejumlah penerbangan harus dihentikan atau disesuaikan demi keselamatan.
Baca juga: Akademisi: Aktivitas gunung api yang bersamaan tidak saling berkaitan
Apa bahaya dari erupsi Anak Krakatau?
Aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat menghasilkan sejumlah potensi bahaya, seperti lontaran material vulkanik, lava, abu vulkanik dan gas vulkanik.
Pengalaman 2018 juga menunjukkan adanya potensi longsoran tubuh gunung yang dapat memicu tsunami. Namun, potensi bahaya pada setiap episode erupsi harus dilihat berdasarkan kondisi aktual gunung dan hasil pemantauan PVMBG.
Pada kondisi terbaru, masyarakat, wisatawan, nelayan, maupun kapal diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dan tidak mendekati pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Sejarah panjang Gunung Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini bukan hanya memiliki nilai penting dari sisi geologi, tetapi juga berkaitan erat dengan sejarah kebencanaan Indonesia.
Erupsi terbaru pada September 2026 kembali menunjukkan pentingnya pemantauan aktivitas gunung api. Masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik juga perlu mengikuti arahan pemerintah dan menggunakan perlindungan seperti masker apabila kualitas udara terganggu akibat abu.
Baca juga: BMKG lakukan "paper test" deteksi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
Baca juga: 66 penerbangan melalui Juanda batal dampak erupsi Anak Krakatau
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9292877/original/058508100_1783663395-IMG_2546.jpg)




