Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi (kedua dari kiri) pada Konferensi Pers HUT ke-49 tahun Pasar Modal Indonesia di Kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (10/9)..(MI/Insi N J)
PASAR modal Indonesia terus memperkuat resiliensi di tengah berbagai dinamika global dan domestik yang memberikan tekanan sepanjang 2026. Momentum 49 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia menjadi kesempatan untuk memperkokoh fondasi pasar modal yang terpercaya dan tangguh, sekaligus memastikan kemampuannya untuk terus tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan di tengah perubahan dan ketidakpastian.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi mengatakan, pasar modal menghadapi tekanan cukup berat sepanjang 2026. Hal itu tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang secara year to date hingga 7 Agustus 2026 terkoreksi 25,87% ke level 6.409,65. Kapitalisasi pasar saham juga mengalami penurunan sebesar 29,26%.
Tekanan tersebut tidak terlepas dari berbagai dinamika eksternal dan domestik yang terjadi secara beruntun. Mulai dari ketidakpastian kebijakan tarif dan ketegangan perdagangan antarnegara, eskalasi risiko geopolitik terutama di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, hingga meningkatnya ancaman inflasi global.
Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, suku bunga, serta memicu rebalancing portofolio investor. Situasi itu membuat pasar modal Indonesia memasuki fase konsolidasi setelah sempat mencatatkan rekor tertinggi pada awal tahun.
“Di balik berbagai tekanan tersebut, pasar modal kita secara faktual tetap menunjukkan tingkat resiliensi yang kuat," ujar Hasan dalam Konferensi Pers HUT ke-49 tahun Pasar Modal Indonesia di Kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (10/9).
Resiliensi pasar modal turut ditopang kondisi makroekonomi nasional yang masih relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I dan II 2026 tetap berada di atas 5%, dengan pertumbuhan ekonomi semester I berada di kisaran 5,4%.
Dari sisi pasar modal, jumlah investor juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hingga 7 Agustus 2026, jumlah investor telah mencapai 30,27 juta Single Investor Identification (SID), tumbuh 48,67% secara tahunan. Capaian tersebut bahkan telah mencapai 151% dari target dalam roadmap yang sebelumnya ditargetkan baru tercapai pada 2027.
Aktivitas penghimpunan dana korporasi juga masih berjalan. Hingga saat ini terdapat 962 perusahaan tercatat, sementara sepanjang 2026 telah berlangsung 135 penawaran umum dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp123,21 triliun. “Tercatat tidak kurang dari 135 penawaran umum dengan total nilai Rp123,21 triliun," terang Hasan.
Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian tercatat tumbuh lebih dari 23% menjadi Rp22,26 triliun per hari. Dana kelolaan industri juga telah mencapai Rp1.026,05 triliun dan masih mencatatkan net subscription positif. Sementara itu, penghimpunan dana melalui securities crowdfunding untuk mendukung UMKM telah melampaui Rp2 triliun.
Hasan menilai berbagai capaian tersebut menunjukkan pasar modal masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Kapitalisasi pasar saat ini memang baru sekitar 70% dari target indikatif, sedangkan jumlah perusahaan tercatat telah mencapai 87% target dan rata-rata nilai transaksi harian telah berada di sekitar 89% target. “Momentum 49 tahun ini harus menjadi kesempatan untuk terus memperkuat integritas pasar modal," ungkapnya.
Aktivitas Bursa Tetap Terjaga
Dalam kesempatan sama, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan, ketahanan pasar juga terlihat dari nilai kapitalisasi pasar yang masih mencapai sekitar Rp11.200 triliun. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi ke-20 secara global.
Rata-rata nilai transaksi harian juga masih berada di sekitar Rp22,3 triliun atau setara US$1,2–1,3 miliar per hari di tengah pelemahan rupiah. Dengan capaian tersebut, Indonesia berada di posisi ke-18 secara global dari sisi nilai transaksi harian. “Pasar kita masih membukukan kapitalisasi sekitar Rp11.200 triliun," tegasnya.
Samsul menambahkan, peluncuran instrumen investasi Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas pada momentum 49 tahun pasar modal juga dinilai semakin memperkuat posisi BEI sebagai bursa dengan beragam kelas aset. Selain ekuitas, BEI telah memperdagangkan surat utang dan sukuk, produk non-saham, waran terstruktur, single stock futures, reksa dana, derivatif, hingga transaksi karbon.
Dari sisi pasokan efek, BEI telah mencatatkan tujuh IPO saham baru sepanjang tahun ini, termasuk satu perusahaan yang masuk kategori lighthouse IPO. Dengan tambahan tersebut, jumlah perusahaan tercatat mencapai 962 emiten. "Tujuh IPO baru masih menempatkan BEI di urutan kedua di kawasan ASEAN," imbuhnya.
Jeffrey mengatakan jumlah IPO memang relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya. Namun, kondisi tersebut juga terjadi di berbagai bursa global akibat ketidakpastian pasar. Seiring perbaikan kondisi makroekonomi, BEI berharap jumlah dan kualitas emiten baru dapat kembali meningkat.
Dari sisi investor, jumlah investor pasar modal telah mencapai sekitar 30,2 juta atau bertambah 9,9 juta investor hanya dalam 7,5 bulan. Penambahan tersebut menjadi pertumbuhan investor tertinggi dalam sejarah pasar modal Indonesia. “Penambahan 9,9 juta investor menjadi pertumbuhan tertinggi dalam sejarah pasar modal Indonesia," tuturnya.
Basis Investor Terus Meluas
Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Samsul Hidayat mengatakan, pertumbuhan investor menjadi salah satu capaian penting pasar modal tahun ini. Jumlah SID pasar modal meningkat hampir 49% dibandingkan akhir 2025, dari sekitar 20,35 juta menjadi lebih dari 30,3 juta SID.
Selain SID pasar modal, KSEI juga mengadministrasikan SID untuk aktivitas non-pasar modal. Secara keseluruhan, jumlah SID S-Invest telah mencapai sekitar 29 juta atau meningkat 51%.
Meski pertumbuhan investor terus meningkat, distribusi kepemilikan efek masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sekitar 65% SID berada di Jawa dengan total aset investor mencapai Rp5.586 triliun. Sumatra menyumbang sekitar 19,34% SID, disusul Kalimantan 5,75%, Sulawesi 5,66%, Bali, NTB dan NTT 3,61%, serta Maluku dan Papua sekitar 1,2%. “Masih besar sekali potensi untuk meningkatkan partisipasi investor di Indonesia," katanya.
Samsul menilai perluasan basis investor di berbagai wilayah akan mendorong pendalaman pasar, baik dari sisi transaksi harian maupun jumlah efek yang tersedia di pasar modal.
Penyelesaian Transaksi
Dari sisi infrastruktur pasar, Direktur Utama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) Antonius Herman Azwar mengatakan aktivitas penyelesaian transaksi juga menunjukkan pertumbuhan.
Pada Januari-Juli 2026, rata-rata nilai penyelesaian transaksi harian bursa mencapai Rp6,65 triliun, meningkat 48% dibandingkan 2025 yang berada di sekitar Rp4,45 triliun. Efisiensi nilai penyelesaian transaksi harian juga meningkat dari 61,81% menjadi 65,43%.
KPEI pada tahun ini menerapkan mekanisme penyelesaian transaksi di level anggota clearing atau anggota kliring, disertai penguatan proses manajemen risiko. “Mekanisme baru menghasilkan efisiensi instruksi penyelesaian rata-rata 96%," terangnya.
Sejak mekanisme tersebut diterapkan, efisiensi waktu penyelesaian juga meningkat 86%. Sementara itu, aktivitas pinjam-meminjam efek sepanjang Januari-Juni 2026 mencatat total nilai Rp109,24 triliun, melonjak sekitar 269% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Volumenya mencapai 31,18 juta lembar atau tumbuh 171%.
Peningkatan aktivitas tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap instrumen pendukung likuiditas dan transaksi di pasar modal terus berkembang. Untuk transaksi tripartit repo, nilai outstanding pada Januari-Juli 2026 mencapai Rp414,63 miliar dengan 16 partisipan. (Ins/P-3)


















































