Maudy Ayunda Minta Maaf soal Konten Berita Buruk, Akui Ada Perspektif yang Terlewat

3 hours ago 1
Maudy Ayunda Minta Maaf soal Konten Berita Buruk, Akui Ada Perspektif yang Terlewat Maudy Ayunda(MI/RAMDANI)

Maudy Ayunda menyampaikan permintaan maaf setelah kontennya mengenai cara menghadapi derasnya berita buruk mendapat beragam respons dari publik. Ia mengakui ada perspektif penting yang belum cukup ia pertimbangkan ketika membuat video tersebut, terutama mengenai kondisi orang-orang yang tidak memiliki pilihan untuk mengambil jarak dari pemberitaan karena peristiwa yang diberitakan berdampak langsung pada kehidupan mereka.

Permintaan maaf tersebut disampaikan Maudy melalui komentar pada video YouTube berjudul Mindfulness in the Age of Bad News. Video itu diunggah pada 21 Agustus 2026 dan berisi refleksi Maudy mengenai pengalamannya menghadapi banyaknya informasi negatif yang muncul secara terus-menerus.

Dalam video tersebut, Maudy menceritakan bahwa paparan berita buruk membuat dirinya merasa kewalahan secara emosional. Ia kemudian mencoba mengatur kembali pola konsumsi informasinya dengan memilih sumber yang dipercaya, membaca informasi secara lebih selektif, serta membatasi paparan berita negatif agar tidak dikonsumsi sepanjang waktu.

Namun, sudut pandang tersebut kemudian mendapat kritik dari sejumlah pengguna media sosial. Kritik terutama berkaitan dengan anggapan bahwa tidak semua orang memiliki pilihan untuk menjauh dari pemberitaan.

Bagi masyarakat yang mengalami dampak langsung dari bencana, kebijakan, kondisi ekonomi, atau persoalan sosial tertentu, informasi mengenai situasi tersebut bukan sekadar berita yang dapat ditinggalkan. Pemberitaan bisa berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, keluarga, pekerjaan, maupun lingkungan tempat mereka tinggal.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Maudy mengakui terdapat bagian yang belum cukup ia refleksikan ketika membuat video.

Ia menyadari bahwa kemampuan untuk mengambil jarak dari pemberitaan merupakan sebuah privilese. Tidak semua orang mempunyai pilihan yang sama, terutama ketika suatu peristiwa berdampak langsung terhadap kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitas mereka.

Karena itu, Maudy menyampaikan permintaan maaf atas bagian tersebut. Ia juga mengapresiasi orang-orang yang memberikan perspektif berbeda dan mengatakan masih mendengarkan serta belajar dari masukan yang diterimanya.

Maudy Tegaskan Mindfulness Bukan Berarti Mengabaikan Realitas

Selain meminta maaf, Maudy juga memberikan penjelasan mengenai maksud pembahasan mindfulness dalam videonya. Ia menegaskan bahwa konsep tersebut tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk mengabaikan persoalan sosial atau menganggap keadaan baik-baik saja.

Maudy menjelaskan bahwa mindfulness justru ingin digunakan sebagai cara untuk tetap menyadari keadaan di sekitar, memahami hubungan sebab dan akibat, serta menjaga kondisi emosional agar seseorang tetap mampu hadir dan peduli terhadap persoalan yang terjadi.

Dalam klarifikasinya, Maudy mengatakan, “Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada.”

Ia juga menjelaskan bahwa pengalaman yang dibagikan dalam video tersebut berasal dari pergulatan pribadinya dalam mencari cara untuk tetap mengikuti berbagai persoalan yang terjadi tanpa merasa kewalahan secara emosional.

Dengan penjelasan tersebut, pembahasan Maudy tidak lagi hanya berkaitan dengan upaya mengurangi paparan berita negatif, tetapi juga mengenai bagaimana seseorang dapat menjaga kondisi diri sambil tetap memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Paparan Berita Negatif dan Kesehatan Mental

Pembahasan mengenai dampak konsumsi berita negatif juga telah menjadi perhatian dalam penelitian. Salah satunya adalah studi yang diterbitkan dalam Journal of Community Psychology pada 2024. Penelitian tersebut melibatkan 400 orang dewasa di Turki dan melihat hubungan antara doomscrolling, mindfulness, stres traumatis sekunder, serta kesejahteraan mental.

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tingkat doomscrolling dengan kesejahteraan mental, dengan mindfulness dan stres traumatis sekunder berperan sebagai faktor yang menjembatani hubungan tersebut. 

Temuan tersebut tidak berarti seseorang harus berhenti mengikuti berita. Penelitian tersebut lebih menunjukkan bahwa pola seseorang dalam mengonsumsi informasi negatif berkaitan dengan kondisi psikologisnya.

Karena itu, mengatur konsumsi informasi dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan. Seseorang dapat memilih sumber yang kredibel, membaca informasi secara lebih utuh, menghindari paparan berlebihan, dan memberikan jeda ketika mulai merasa kewalahan.

Namun, kebutuhan setiap orang terhadap informasi tidak selalu sama. Seseorang yang hanya mengikuti berita untuk mengetahui perkembangan situasi tentu memiliki kondisi berbeda dengan orang yang keluarganya terdampak bencana atau kebijakan tertentu.

Perbedaan kondisi tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam polemik konten Maudy. Saran untuk mengambil jeda dari pemberitaan mungkin relevan bagi sebagian orang, tetapi tidak dapat diterapkan secara sama kepada semua orang tanpa mempertimbangkan situasi yang mereka hadapi.

Pada akhirnya, permintaan maaf Maudy menunjukkan bahwa sebuah pesan mengenai kesehatan mental juga perlu mempertimbangkan konteks sosial dan pengalaman audiens yang beragam.

Maudy pun menutup klarifikasinya dengan mengapresiasi orang-orang yang telah memberikan masukan. Ia menyampaikan bahwa dirinya menerima perspektif tersebut sebagai bagian dari proses untuk belajar dan memperluas cara pandangnya.

Sumber: Instagram (@voxnetizens)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |