Mark Rutte Puji Trump di KTT NATO Ankara: Strategi Diplomasi atau Tunduk?

2 weeks ago 13
 Strategi Diplomasi atau Tunduk? Donald Trump dan Mark Rutte.(Al Jazeera)

KONFERENSI Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara, Turki, pekan ini diwarnai ketegangan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan berbagai ancaman terhadap sejumlah sekutu. Namun, di tengah friksi tersebut, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte justru memberikan pujian setinggi langit kepada pria yang ia sapa sebagai, "Donald tersayang," tersebut.

Rutte berterima kasih kepada Trump dan menyebut upayanya mendorong negara-negara NATO meningkatkan belanja pertahanan sebagai pencapaian yang luar biasa dan kemenangan besar bagi aliansi militer tersebut. Pendekatan Rutte yang menggunakan sanjungan untuk melunakkan hati sang presiden memicu pertanyaan mengenai manfaat nyata bagi aliansi secara keseluruhan.

Ancaman Trump di Ankara

Selama dua hari di Ankara, Trump menunjukkan sikap konfrontatif dengan mengancam akan memutus hubungan dagang dengan Spanyol terkait masalah belanja pertahanan. Ia juga menyatakan kekecewaannya terhadap respons NATO atas perang AS dengan Iran serta menghidupkan kembali perselisihan dengan Denmark mengenai wilayah Greenland.

Meski demikian, Trump hanya memberikan pujian bagi Rutte. Ia menggambarkan mantan Perdana Menteri Belanda tersebut sebagai pemimpin hebat dan aset terbesar aliansi. Dalam pertemuan bilateral pada Rabu (8/7/2026), Rutte memuji Trump karena berhasil membuat Kanada dan negara-negara Eropa menambah belanja pertahanan sebesar US$1,2 triliun selama dua masa jabatannya, angka yang disebut Rutte sebagai Trump Trillion.

"Anda melakukan apa yang mulai dicoba oleh Eisenhower dan semua presiden lain, tidak ada yang berhasil. Anda adalah yang pertama. Ini adalah kemenangan Anda," ujar Rutte saat menyela kritik Trump terhadap mantan presiden AS terdahulu.

Kritik dan Kontroversi Strategi Flattery

Strategi diplomasi Rutte ini menuai kritik dari para pakar keamanan. Marion Messmer, direktur program keamanan internasional di Chatham House, menilai bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa mengelola Trump dalam jangka panjang. Ia menyarankan agar Eropa lebih fokus pada penguatan keamanan mereka sendiri.

"Sementara Rutte berhasil tetap berada dalam daftar baik Trump dengan campuran sanjungan dan ketundukan, pemimpin NATO lain semakin teriritasi dengan apa yang mereka anggap sebagai perilaku yang tidak pantas," kata Messmer. Ia khawatir pendekatan ini mengirimkan pesan yang salah kepada Rusia, seolah-olah negara-negara Eropa merasa lemah tanpa AS.

Respons Pemimpin NATO Lain

Berbeda dengan Rutte, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen bersikap menantang terkait klaim Trump atas Greenland. "Kami siap mempertahankan setiap inci NATO, termasuk wilayah kami sendiri," tegas Frederiksen saat ditanya mengenai kesiapan militer Denmark.

Di sisi lain, Presiden Finlandia Alexander Stubb mencoba meredakan ketegangan dengan mengajak para pemimpin untuk bersikap lebih tenang. Sementara itu, Presiden Latvia Edgars Rinkēvičs membela Rutte dengan menyatakan bahwa tugas utama Sekjen NATO ialah menjaga aliansi tetap berjalan dan mempertahankan hubungan trans-atlantik tetap utuh.

Menanggapi pertanyaan wartawan mengenai harga diri dan kegagalannya membela sekutu yang diancam Trump, Rutte menegaskan pentingnya mengakui fakta. Ia berpendapat bahwa peningkatan belanja pertahanan Eropa membuat benua tersebut menjadi mitra strategis yang lebih relevan bagi Amerika Serikat. (CNBC/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |