Lestari Moerdijat Dorong Percepatan Kompetensi Guru Pendidikan Inklusif

2 weeks ago 19
Lestari Moerdijat Dorong Percepatan Kompetensi Guru Pendidikan Inklusif WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.(Antara)

WAKIL Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa upaya percepatan penguatan kompetensi guru merupakan kunci utama dalam mewujudkan sistem pendidikan inklusif di Indonesia. Menurutnya, langkah ini harus didukung oleh data yang akurat serta strategi komprehensif guna memangkas kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga pendidik kompeten di lapangan.

"Saat ini, kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan guru kompeten di lapangan masih sangat tinggi, sehingga perlu strategi yang komprehensif untuk mempercepat kompetensi guru dalam menjalankan sistem pendidikan yang inklusif," ujar Lestari dalam keterangan tertulisnya, Jumat (10/7).

Krisis Guru Pembimbing Khusus

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per September 2025, tercatat sebanyak 363.921 murid penyandang disabilitas di seluruh Indonesia. Dari populasi tersebut, sebanyak 199.375 murid menempuh pendidikan di 60.910 Satuan Pendidikan Penyelenggara Pendidikan Inklusif (SPPI).

Namun, Lestari yang akrab disapa Rerie, menyayangkan fakta bahwa hanya sekitar 15% dari total SPPI yang memiliki Guru Pembimbing Khusus (GPK). Kondisi ini dinilai sebagai hambatan serius dalam memberikan layanan pendidikan yang setara bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).

Data Pendidikan Inklusif (September 2025):

  • Total Murid Disabilitas: 363.921 anak.
  • Murid di Sekolah Inklusif (SPPI): 199.375 anak.
  • Jumlah Satuan Pendidikan (SPPI): 60.910 sekolah.
  • Ketersediaan GPK: Hanya 15% dari total SPPI.

Target Pelatihan dan Skema Penyetaraan

Sebagai Anggota Komisi X DPR RI, Rerie mendukung program pemerintah yang menargetkan pelatihan tingkat mahir bagi 1.500 guru di 25 provinsi sepanjang tahun 2026. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa angka tersebut masih jauh dari kebutuhan nasional yang sangat besar.

Data Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) menunjukkan terdapat 2.663 guru yang telah memenuhi syarat sebagai kandidat peserta pelatihan. Selain itu, terdapat potensi tambahan hingga 5.129 calon peserta baru melalui skema penyetaraan.

"Pemerintah harus konsisten dan agresif. Program pelatihan yang diluncurkan Kemendikdasmen adalah langkah awal yang baik, tetapi jangan berhenti di situ. Kita perlu melihat rasio ideal," tegas Politisi Partai NasDem tersebut.

Guru sebagai Agen Perubahan

Lebih lanjut, Rerie menekankan bahwa peningkatan kompetensi guru tidak boleh hanya terpaku pada aspek teknis. Keberhasilan pendidikan inklusif sangat bergantung pada empati dan kemampuan guru dalam memahami kebutuhan unik setiap anak, serta menyesuaikan metode pembelajaran secara adaptif.

Ia berharap guru dapat menjadi agen perubahan yang memiliki kemampuan berpikir kritis dan nilai kemanusiaan yang tinggi. Dukungan dari semua pihak sangat diperlukan agar para pendidik mampu menerjemahkan filosofi pendidikan nasional ke dalam praktik nyata, terutama di tengah tantangan era digital saat ini.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |