Kronologi Kematian Siswa SMK di Samarinda Versi Disdik

2 hours ago 1

DINAS Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur menyatakan belum dapat menyimpulkan penyebab kematian siswa SMK Negeri 4 Samarinda, Mandala Rizky Saputra, yang sempat ramai. Mendiang Mandala diduga meninggal karena terpaksa menggunakan sepatu yang sempit sehingga membuat kakinya sakit.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Berdasarkan surat hasil pendalaman kasus yang yang ditandatangani oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kaltim, Armin, menunjukkan tidak ada diagnosis medis yang memastikan penyebab kematian siswa tersebut.

“Karena tidak ada diagnosis medis dari layanan kesehatan, maka tidak dapat disimpulkan bahwa penyebab meninggalnya murid karena sepatu,” kata Armin sebagaimana dikutip dari surat tersebut. Surat itu ditandatangani Armin pada Senin, 4 Mei 2026.

Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Kaltim Jarwoko turut membantah isu penyebab kematian Mandala akibat sepatu yang kekecilan hingga menyebabkan kaki almarhum infeksi. “Tidak ada luka sama sekali. Saya tanyakan ke orang tuanya, sama sekali tidak ada luka, lecet pun tidak ada,” kata dia saat dihubungi pada Senin, 4 Mei 2026.

Jarwoko menuturkan, sebelumnya Mandala memang sempat mengeluhkan sakit di kaki, pinggang, dan dada. Namun, karena kondisi ekonomi keluarganya yang sulit, Mandala tak ingin membuat orang tuanya cemas. Ia menutupi rasa sakitnya dengan mengungkapkan sakit di kakinya akibat dari sepatu yang ia kenakan sudah sempit.

“Padahal terasa sempit itu karena pembengkakan cairan yang turun ke kaki,” kata Jarwoko. Berdasarkan penelusuran timnya, pekerjaan ibu dari almarhum Mandala hanya berjualan risoles. Sementara, ayah kandungnya telah wafat. “Ibunya ini menikah lagi. Kami belum tahu apa pekerjaan bapak sambungnya,”  kata dia.

Disdik Kaltim menyampaikan kronologi sakitnya Mandala hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir. Mandala, siswa kelas XI, diketahui sempat mengikuti kegiatan praktik kerja lapangan (PKL) di salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda pada 9 Februari hingga 20 Maret 2026.

Setelah itu, ia kembali mengikuti pembelajaran pada 30 Maret, namun dua hari kemudian disarankan beristirahat karena kondisi fisik menurun.

Sejak awal April, siswa tersebut tidak lagi masuk sekolah. Pihak keluarga mengirimkan izin sakit, disertai informasi kondisi kesehatan yang terus menurun. Dalam perkembangan selanjutnya, keluarga juga sempat mengajukan bantuan pinjaman ke sekolah untuk biaya pengobatan.

Pada 10 April, orang tua datang ke sekolah dan menyampaikan kondisi anak yang memburuk. Sekolah kemudian membantu memfasilitasi biaya pengobatan sebesar Rp 1,1 juta.

Pihak sekolah juga melakukan kunjungan ke rumah pada 21 April. Saat itu, siswa dilaporkan mengalami lemas dan pembengkakan pada kaki, namun tanpa luka terbuka. Guru menyarankan agar siswa segera dibawa ke fasilitas kesehatan.

Dalam kunjungan tersebut, orang tua juga menyampaikan adanya tunggakan biaya pengobatan sebesar Rp 2,4 juta. Sekolah kemudian membantu mengupayakan pengurusan BPJS melalui koordinasi dengan ketua RT setempat.

Kunjungan kedua dilakukan pada 23 April 2026. Pihak keluarga menyebut kondisi siswa sempat membaik dan pembengkakan kaki berkurang. Sekolah bahkan berencana membelikan sepatu baru sesuai ukuran siswa.

Namun sehari kemudian, 24 April 2026, pihak sekolah menerima kabar bahwa Mandala telah meninggal. Sekolah turut mendampingi proses pemulasaraan hingga pemakaman.

Sebelumnya, diberitakan berbagai media lokal bahwa Mandala meninggal akibat tak mampu beli sepatu. Ia menggunakan sepatu sempit untuk kegiatan sekolah dan magang sampai akhirnya kakinya sakit dan infeksi. Namun, isu itu telah dibantah oleh dinas pendidikan setempat. 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |