Warga Iran.(France 24)
KETEGANGAN antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin mendekati ambang perang terbuka setelah serangkaian serangan terhadap struktur sipil dan militer terus meningkat selama akhir pekan. Sedikitnya tiga hingga empat anggota layanan AS dilaporkan tewas sejak pertempuran kembali pecah sepekan lalu.
Komando Pusat AS (Centcom) meluncurkan gelombang serangan baru terhadap situs militer di Iran pada Minggu (19/7) malam. Serangan tersebut diklaim bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang pelayaran komersial di Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa serangan ini merupakan bentuk retribusi bagi para tentara yang gugur.
Identitas Korban dan Lokasi Serangan
Pada Senin (20/7) pagi, Pentagon mengidentifikasi dua anggota layanan AS yang tewas dalam aksi di suatu pangkalan di Yordania pada Jumat lalu. Mereka ialah Letnan Satu Tyler James Feehan, 25, dari Hawaii dan Prajurit Isabella Gonzales, 19, dari Texas. Selain itu, Centcom menemukan sisa-sisa jenazah orang ketiga di pangkalan yang sama.
Di lokasi berbeda, seorang anggota layanan AS tewas di Irak utara pada Sabtu saat melakukan peledakan terkendali terhadap amunisi yang tidak meledak dari pesawat tak berawak (drone) Iran yang jatuh. Hingga saat ini, total korban tewas mencapai 17 atau 18 orang, dengan lebih dari 430 lain luka-luka sejak operasi militer dimulai.
Catatan Keamanan: Serangan di Yordania merupakan yang kedua kali dalam sepekan terhadap instalasi yang sama. Para prajurit di lapangan melaporkan bahwa banyak bangunan pangkalan hanya berupa tenda atau bangunan logam yang tidak mampu menahan serangan roket maupun drone.
Kekhawatiran Eskalasi dan Kesiapan Militer
Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Pentagon sedang merencanakan perang yang lebih luas. Namun, ia memperingatkan bahwa ekspansi operasi akan dibatasi oleh menipisnya stok pertahanan udara dan amunisi jarak jauh serta kerusakan tempur yang menghambat pengiriman pasukan tambahan.
Para ahli militer, termasuk Seth Jones dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), menilai AS belum siap untuk operasi darat di dalam wilayah Iran. "Akan menjadi kesalahan besar untuk menempatkan pasukan darat di pulau-pulau di selat atau daratan utama," ujarnya.
Dampak Ekonomi dan Jalur Energi
Meskipun pertempuran sengit terjadi, Menteri Energi Chris Wright mengeklaim bahwa aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap berjalan, dengan rata-rata 7 juta barel per hari berhasil melewati rute tersebut dalam sepekan terakhir. Namun, klaim ini dibantah oleh data publik yang menunjukkan pengiriman hampir terhenti total.
Harga bahan bakar di AS juga menjadi sorotan. Senator Mark Warner mengkritik kebijakan pemerintah dengan menyebut perang ini sebagai bencana militer yang memicu kenaikan harga gas hingga rata-rata US$4 per galon, jauh di atas harga sebelum perang sebesar US$2,81.
Upaya Diplomasi di Tengah Krisis
Di tengah eskalasi, sinyal diplomasi mulai muncul. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebutkan ada inisiatif negosiasi baru yang dibawa oleh mediator Qatar. Sekretaris Negara AS, Marco Rubio, juga menyatakan bahwa AS tetap terbuka untuk solusi diplomatik, meski ia melihat ada perpecahan internal dalam sistem pemerintahan Iran.
Hingga berita ini diturunkan, Pentagon dan Centcom menolak memberikan komentar lebih lanjut mengenai detail serangan sebelumnya dan belum mengadakan pengarahan berita resmi terkait operasi terhadap Iran sejak awal Mei. (The Washington Post/I-2)

















































