Ketika Budaya dan Sains Menyatu: Menyibak Fisika Paud dalam Eksperimen Etnosains Sumba di Bumi Marapu

1 day ago 1
 Menyibak Fisika Paud dalam Eksperimen Etnosains Sumba di Bumi Marapu Rambu Ririnsia Harra Hau, Dosen Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Stella Maris Sumba(dok. Pribadi)

APA yang terjadi jika anak-anak belajar sains fisika bukan dari gambar di buku, melainkan dari rumah adat, gasing, kain tenun, dan tempurung kelapa? Di Sumba Barat Daya, pertanyaan itu kini terjawab. Benda-benda yang selama ini dipandang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari dan warisan budaya ternyata menyimpan fenomena sains seperti Rumah Adat Sumba yang berbicara tentang keseimbangan, gasing yang memperlihatkan gerak rotasi, proses pewarnaan benang tenun yang mengenalkan kapilaritas, hingga permainan tempurung kelapa yang memperlihatkan kerja gaya gesek pada permukaan berbeda.

Persoalannya, potensi tersebut belum selalu hadir sebagai bagian dari pembelajaran anak usia dini. Pembelajaran sains di PAUD masih dipersepsikan sebagai kegiatan yang membutuhkan alat khusus, ruang laboratorium, atau materi yang sulit masih membayangi daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang terbatas fasilitasnya, sehingga berisiko membuat anak-anak menganggap sains sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari mereka. 

Anak usia dini belajar melalui pengalaman konkret. Mereka menyentuh, melihat, mencoba, membandingkan, bertanya, lalu menemukan sesuatu dari apa yang mereka alami. Karena itu, memperkenalkan sains kepada anak tidak harus dimulai dari istilah ilmiah tetapi adalah menghadirkan pengalaman yang mendorong rasa ingin tahu.

Di sinilah etnosains menemukan relevansinya.

Etnosains menjembatani pengetahuan yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat dengan pengetahuan ilmiah. Pendekatan ini menghubungkan budaya lokal yang tidak berhenti sebagai objek pelestarian, tetapi menjadi sumber belajar yang hidup.

Gagasan tersebut diterapkan tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Stella Maris Sumba yang mendapatkan Hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) Kemenristekdikti tahun 2026 di Kelompok Bermain (KB) Horeb, Desa Wee Londa, Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya. Program yang dipimpin Rambu Ririnsia Harra Hau bersama Bewa Dangu Soleman Renda Bili dan 2 mahasiswa mendampingi lima guru PAUD untuk mengembangkan pembelajaran sains berbasis etnosainsSumba.

Yang menarik, guru diajak melihat lingkungan sekitar sebagai saintifik: fenomena yang terjadi, pertanyaan yang diajukan kepada anak, dan permainan sederhana apa yang dapat digunakan untuk membuat anak menemukan jawabannya.

Rumah Adat Sumba, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai bangunan tradisional. Struktur dan bentuknya dapat digunakan untuk mengajak anak mengamati keseimbangan dan pembebanan. Guru dapat mengajak anak bertanya mengapa sebuah benda dapat berdiri kokoh atau apa yang terjadi ketika beban diletakkan pada posisi berbeda.

Begitu pula gasing. Permainan tradisional bukan hanya hiburan. Ketika diputar, anak dapat mengamati bagaimana benda bergerak, mengapa gasing dapat berputar, dan mengapa akhirnya berhenti. Dari pengalaman sederhana itu, anak mulai bersentuhan dengan konsep gerak rotasi dan gaya putar. 

Kain Tenun Ikat dapat menjadi ruang belajar. Pewarna alami dari kunyit atau dedaunan yang merambat dan menyerap ke dalam benang dapat diamati sebagai pengalaman awal untuk mengenalkan kapilaritas. Sementara permainan tempurung kelapa dapat digunakan untuk memperlihatkan perbedaan gaya gesek pada permukaan tertentu.

“Sains bukan pelajaran yang rumit, anak-anak Sumba sejatinya sudah 'belajar' fisika setiap hari lewat budaya mereka sendiri,” tegas Rambu Ririnsia Harra Hau, ketua tim pengabdi.

Pernyataan tersebut menunjukkan satu persoalan yang lebih besar dalam pendidikan di daerah 3T. Keterbatasan fasilitas memang tidak boleh diabaikan. Namun, pendidikan juga tidak boleh berhenti pada daftar tentang apa yang tidak dimiliki sekolah.

Pertanyaan yang sama penting adalah: apa yang sebenarnya sudah dimiliki masyarakat, tetapi belum dimanfaatkan sebagai sumber belajar?

Sumba memiliki kekayaan budaya, lingkungan alam, permainan tradisional, kerajinan, serta pengetahuan masyarakat yang dapat menjadi sumber pembelajaran. Tantangannya adalah bagaimana guru mengubah kekayaan tersebut menjadi pengalaman belajar yang terarah dan sesuai dengan perkembangan anak.

Kegiatan PKM ini membuat MODE-SUMBA, atau Modul Digital Eksperimen Etnosains Sumba. Guru dibekali kemampuan membuat katalog digital interaktif, video pembelajaran singkat, serta penyimpanan dokumentasi melalui platform digital. Di KB Horeb juga dikembangkan Science Corner yang dilengkapi kode QR sehingga media pembelajaran dapat diakses kembali oleh guru dan orang tua.

Namun, teknologi bukanlah tujuan akhir. QR Code, video, dan katalog digital hanya akan bermakna jika membantu anak kembali kepada pengalaman nyata: bermain, mengamati, bertanya, dan mencoba. Jangan sampai digitalisasi justru menggantikan interaksi langsung yang menjadi inti pembelajaran anak usia dini.

Hasil pendampingan menunjukkan peningkatan pemahaman guru sebesar 71% (kategori tinggi) namun tantangan literasi sains PAUD tetap memerlukan keberlanjutan program, konsistensi praktik kelas, keterlibatan orang tua, serta penguatan kapasitas guru secara berkesinambungan.

Pengelola KB Horeb, Yublina Dapasapu, mengakui perubahan cara pandang tersebut. “Dulu kami bingung bagaimana mengenalkan sains tanpa fasilitas laboratorium. Sekarang, cukup dengan mengamati struktur Rumah Adat Sumba, gasing, atau kain tenun, kami bisa mengajarkan sains dengan sangat menyenangkan. Anak-anak menjadi jauh lebih aktif dan kritis.”

Pengalaman di KB Horeb memperlihatkan bahwa pembelajaran sains tidak harus dimulai dari laboratorium yang lengkap. Kadang-kadang, dimulai dari tanah tempat anak berpijak, budaya yang mereka kenal, dan pertanyaan sederhana yang muncul dari rasa ingin tahu.
 
Keterbatasan fasilitas justru membuka pertanyaan yang lebih besar: mungkinkah pembelajaran sains dibangun dari apa yang paling dekat dengan kehidupan anak?
Jawabannya mungkin sesederhana seorang anak yang memutar gasing.

Ia bermain.
Ia bertanya.
Ia mengamati.

Dan tanpa menyadarinya, ia sedang belajar sains fisika.

Di Sumba, laboratorium pertama bagi anak-anak bukanlah sebuah gedung, melainkan alam, rumah adat, kain tenun, permainan tradisional, dan budaya yang setiap hari ada di sekitar mereka.

Tinggal bagaimana pendidikan membuka mata untuk menjelajahinya.
 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |