Kesebelasan Vs Kesatuan

4 days ago 5
Kesebelasan Vs Kesatuan Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

SEPAK bol a modern akhirnya memberi­kan putusan yang sulit dibantah. Di Stadion MetLife, New Jersey, Spanyol menga­lahkan Argentina 1-0 pada final Piala Dunia 2026. Satu gol Ferran Torres memang cu­kup untuk menentukan juara. Namun, pelajaran terbesar dari laga itu jauh melampaui angka di papan skor. Yang menang bukan sekadar Spanyol. Yang menang ialah sebuah ‘kese­belasan’.

Spanyol datang tanpa dewa. Mereka tidak membawa seorang pemain yang harus menyentuh bola setiap saat agar permainan hidup. Mereka tidak menggantungkan nasib kepada seorang juru selamat. Sebaliknya, mereka membawa sebelas pemain yang saling memercayai, saling menutupi, dan saling menghidupkan.

Ketika bek menguasai bola, gelandang telah membuka ruang. Ketika gelandang di­tekan, penyerang turun mem­bantu. Saat bola hilang, seluruh pemain bergerak serempak merebutnya kembali. Me­reka menyerang sebagai satu irama dan bertahan sebagai satu napas.

Tidak ada matahari yang terlalu terang hingga mem­buat bintang-bintang lain kehilangan cahaya. Lihatlah Pau Cubarsi, Rodri, atau Pedro Porro, yang tak kalah terang ketimbang Lamine Yamal dan Dani Olmo. Begitulah memang mestinya kesebelasan bekerja.

Argentina justru datang de­ngan cerita berbeda. Mereka tetap memiliki Lionel Messi, pemain yang mungkin terbe­sar dalam sejarah sepak bola. Bahkan, di usia yang tak lagi muda, Messi masih mampu mengubah arah pertandingan hanya dengan satu sentuhan. Ia tetap menjadi pusat gravitasi permainan Albiceleste.

Namun, justru di situlah paradoks itu lahir. Terlalu ba­nyak keputusan permainan bermuara kepada Messi. Ter­lalu banyak harapan berakhir di kakinya. Ketika setiap se­rangan mencari satu orang, lawan hanya perlu memutus satu simpul untuk melum­puhkan seluruh jalinan. Ke­sebelasan Spanyol melawan kesatuan Argentina.

Kesatuan memang memiliki pemimpin, tetapi belum tentu memiliki distribusi kekuatan. Kesatuan bisa sangat solid secara emosional, tetapi be­lum tentu elastis secara taktis. Kesatuan sering kali bertumpu pada satu poros. Ketika poros itu dipatahkan, seluruh bangunan ikut berguncang.

Sebaliknya, kesebelasan ti­dak mengenal pusat tunggal. Ia mengenal jejaring. Ia tidak dibangun oleh satu tokoh, melainkan oleh hubungan an­tarpemain. Kekuatannya lahir dari koordinasi, bukan kultus individu. Kehilangannya ditu­tupi bersama. Keunggulannya dibagi rata.

Di situlah sepak bola modern bergerak. Permainan hari ini menuntut kecepatan berpikir yang sama cepatnya dengan kecepatan berlari. Menun­tut perpindahan posisi yang cair. Menuntut setiap pemain mampu menjadi penyerang sekaligus bek, kreator seka­ligus pekerja. Dalam dunia seperti itu, ketergantungan kepada satu sosok bukan lagi kelebihan. Ia justru menjadi titik lemah.

Karena itu, kemenangan Spanyol terasa seperti penegasan sebuah zaman. Bahwa era kesebelasan telah meng­gantikan era ‘kesatuan’. Era jaringan telah mengalahkan era pusat. Era kolektivitas mengungguli era individuali­tas. Pelajaran itu sesungguh­nya melampaui lapangan hijau.

Organisasi yang menggan­tungkan diri pada satu orang akan rapuh ketika orang ter­sebut pergi. Perusahaan yang hanya memiliki satu pemikir akan kehilangan arah ketika pemikir itu berhenti. Bangsa yang terlalu mengandalkan seorang tokoh akan gamang setiap kali sang tokoh turun panggung.

Sebaliknya, bangsa yang membangun sistem, mem­bagi peran, menumbuhkan pemimpin di setiap lini, dan memperkuat kerja sama akan jauh lebih tahan menghadapi perubahan zaman.

Piala Dunia 2026 telah meng­ingatkan kita bahwa keme­nangan tidak selalu lahir dari pemain terbaik. Kemenangan sering kali lahir dari tim ter­baik. Dan sejarah, berkali-kali, berpihak kepada mereka yang memilih menjadi ‘kesebelasan’, bukan sekadar ‘kesatuan’.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |