Warga Desa Pilangsari, Majalengka, mengangkut air bersih dari sumur pompa akibat sumur rumah mengering di musim kemarau .(MI/Nurul Hidayah-HO)
MEMASUKI musim kemarau, krisis air bersih mulai membayangi warga di Desa Pilangsari, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Menyusul mengeringnya sumur-sumur warga, mereka kini terpaksa menempuh jarak hingga satu kilometer demi mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang warga Desa Pilangsari, Warkiah, menuturkan bahwa kondisi air sumur di kediamannya sudah tidak lagi memadai sejak beberapa hari terakhir.
“Sudah beberapa hari ini air sumur mengering. Sudah tidak bisa dipakai lagi untuk memenuhi kebutuhan air di rumah,” tutur Warkiah, warga Desa Pilangsari, Selasa (21/7).
Guna memenuhi kebutuhan harian, Warkiah harus mendatangi sumber mata air sumur pompa yang berlokasi tidak jauh dari gerbang desa. Jarak yang cukup jauh dari rumahnya kerap ia tempuh menggunakan sepeda motor sembari membawa empat jeriken.
“Hampir setiap musim kemarau kami mengangkut air dari sumur pompa ini,” tutur Warkiah.
Ia menambahkan, air dari sumur pompa tersebut masih jernih, bersih, dan layak dikonsumsi. Dalam sehari, ia rutin mengangkut air sebanyak dua kali, yakni pada pagi dan sore hari.
ANTREAN PANJANG DI SUMUR POMPA
Kondisi serupa dialami oleh mayoritas penduduk setempat. Alhasil, titik sumur pompa tersebut kini menjadi tumpuan utama warga desa hingga memicu antrean panjang, khususnya menjelang sore hari.
Warga lainnya, Wawan, mengungkapkan bahwa sebenarnya wilayah mereka sudah terjangkau oleh jaringan layanan PDAM Majalengka. Namun, cakupannya belum merata ke seluruh pemukiman warga. “Antrian panjang terutama di sore hari,” tutur Wawan, warga lainnya.
Wawan menjelaskan, selain belum menjangkau seluruh rumah warga, pasokan air dari PDAM kerap mengalami kendala saat musim kemarau tiba.
"Selain itu air PDAM terkadang berhenti mengalir atau alirannya kecil di musim kemarau," jelas Wawan.
Menurut Wawan, di tengah kondisi kekeringan saat ini, warga Desa Pilangsari mengandalkan dua titik sumur cadangan yang airnya tetap melimpah dan jernih, yakni yang terletak di ujung barat dan ujung timur desa.
“Airnya tidak pernah surut dan jernih. Kami mengandalkan air dari dua sumur tersebut setiap musim kemarau,” tutur Wawan. (UL/P-2)

















































