Penyaluran bantuan air bersih oleh BPBD Kabupaten Sukabumi untuk warga di dua wilayah terdampak kemarau, beberapa waktu lalu .(MI/Benny Bastiandy-HO/BPBD Kabupaten Sukabumi )
LAHAN pertanian di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dilaporkan mulai terdampak musim kemarau. Penurunan debit air sungai memicu terjadinya kekeringan di sejumlah kawasan pertanian akibat minimnya pasokan irigasi.
Manager Pusat Pengendalian dan Operasional (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menuturkan di beberapa wilayah dilaporkan musim kemarau mulai berdampak terhadap lahan pertanian.
Kondisi itu dipicu debit air di aliran-aliran sungai yang mengalami penurunan. "Sementara ini di beberapa wilayah yang terdampak kekeringan kebanyakan lahan pertanian," kata Daeng, Jumat (10/7).
KOORDINASI DENGAN DINAS TEKNIS
Kendati demikian, Daeng belum merinci secara detail titik lokasi maupun luasan lahan pertanian yang terdampak kekeringan tersebut.
Saat ini, BPBD telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian setempat untuk langkah penanganan lebih lanjut.
"Untuk detail data dan lokasi serta luasan lahan terdampak kekeringan ada di dinas teknis," ujarnya.
PASOKAN AIR BERSIH WARGA
Berkurangnya curah hujan di wilayah Sukabumi diketahui sudah berlangsung sejak lebih dari sebulan terakhir.
Namun, Daeng menyebut pihaknya belum menerima laporan secara masif mengenai terjadinya krisis air bersih di kalangan masyarakat.
"Laporan (krisis air) baru dari Kecamatan Cibadak. Sudah kami tangani dengan mengirimkan satu kali air bersih," ungkap dia.
Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Sukabumi belum menetapkan status siaga darurat kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) demi merespons musim kemarau tahun ini.
BPBD menegaskan masih terus memantau perkembangan situasi dan kondisi riil di lapangan. "Sementara ini kita masih memantau wilayah dulu," pungkasnya. (BB/P-2)

















































