Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)
TIDAK pernah ada keputusan pertandingan sepak bola yang diambil di luar lapangan, apalagi sesudah beberapa hari pertandingan berlalu. Dengan segala kelemahan dan kekurangannya, putusan wasit final dan tidak bisa diganggu gugat.
Mengapa? Agar tidak ada perselisihan yang berkepanjangan dan sekaligus memberikan kepastian. Kesalahan yang dilakukan wasit dianggap sebagai bagian dari permainan yang membuat sepak bola selalu diliputi misteri dan itulah yang membuat sepak bola menjadi lebih 'indah'.
Tentu bagi tim yang dirugikan, kesalahan seorang wasit sangatlah menyakitkan. Namun, kebesaran hati dari sebuah tim dan pemain untuk menerima kenyataan menjadi ukuran kematangan sebuah kesebelasan sekaligus bangsa itu.
Dalam ajang seperti Piala Dunia, Inggris merupakan tim yang paling banyak dirugikan. Di perempat final Piala Dunia 1986, gol 'Tangan Tuhan' Diego Armando Maradona mengubur mimpi Peter Shilton dkk untuk bisa menjadi juara.
Pada Piala Dunia 2010, nasib sial dialami lagi oleh Inggris asuhan Fabio Capello. Setelah tertinggal 1-2, gelandang Inggris Frank Lampard membuat tendangan jauh yang membentur mistar bagian atas saat bertemu Jerman di babak 16 besar. Bola pantulannya sebenarnya melewati garis gawang dan seharusnya gol. Namun, karena bolanya begitu cepat dan liper Jerman Manuel Neuer dengan cepat menangkap bola serta langsung melemparkannya ke depan, wasit tidak bisa lagi punya waktu untuk mengecek. Saat itu video assistant referee (VAR) belum dikenal. Inggris pun harus menerima kenyataan pahit kalah 1-4.
Begitu seorang wasit membunyikan peluit panjang, semua pihak harus menerima apa pun hasil pertandingan. Kalaupun ada kekeliruan dari seorang wasit, menjadi catatan bagi FIFA dan wasit itu akan dikenai sanksi yang keras.
Tentu akan ada pro-kontra atas peristiwa seperti itu. Namun, demi tegaknya peraturan permainan dan peraturan pertandingan, kesalahan seorang pengadil tidak pernah dibuka kepada publik. Itu diperlukan untuk menjaga kehormatan korps wasit dan sekaligus memaksa semua pihak yang terlibat dalam sepak bola agar patuh kepada putusan wasit.
Kalau seluruh dunia sekarang mengecam tindakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memaksa FIFA mencabut kartu merah yang diterima penyerang nasionalnya, Folarin Balogun, sangatlah wajar. Presiden Trump tidak hanya dianggap tidak menghormati putusan wasit, tetapi juga merusak tatanan sepak bola, khususnya penghormatan pada wasit.
Keputusan menjelang pertandingan 16 besar melawan Belgia merupakan cerminan bahwa bagi Presiden Trump, menang boleh dilakukan dengan segala cara. Termasuk mengajarkan anarki peraturan di dunia sepak bola.
Dalam sejarah Piala Dunia, itu penganuliran kartu untuk kedua kalinya dilakukan di luar pertandingan. Pertama, terjadi pada ajang Piala Dunia 1962 ketika kartu merah kepada penyerang Brasil, Garricha, dicabut setelah pertandingan. Hanya saja, ketika itu belum ada aturan bahwa pemain yang menerima kartu merah otomatis dilarang tampil pada pertandingan berikutnya.
Beruntung pertandingan sepak bola bukan permainan yang bisa direkayasa. Tim yang bisa memenangi pertandingan harus memenuhi banyak prasyarat. Mulai kesiapan fisik, kekuatan mental, kecerdikan dalam menyiapkan taktik dan strategi, hingga kemauan yang lebih kuat untuk membangun kebersamaan tim dan memenangi pertandingan.
Tim 'Paman Sam' belumlah sampai tim level elite sepak bola dunia. Mau menurunkan berapa banyak Balogun pun, mereka masih kalah kelas dari Belgia. Setelah sempat menyamakan kedudukan 1-1, begitu banyak kesalahan elementer yang dilakukan pemain tuan rumah sehingga AS kalah 1-4 dan tersingkir dari gelanggang.
Bagi Tim Ream dan kawan-kawan, kekalahan itu pasti terasa lebih pahit karena mereka harus menerima kekalahan ganda. Pertama, mereka kalah permainan dari Belgia dan kedua, mereka kalah karena sudah mengangkangi aturan pertandingan.
Kalau semua konfederasi, asosiasi, pecinta sepak bola menuntut Presiden FIFA Gianni Infantino untuk mundur dari jabatan, itu disebabkan keputusan untuk berkompromi dengan Presiden Trump merusak masa depan sepak bola. Kalau FIFA tidak teguh dalam menerapkan aturan, wasit kehilangan kredibilitas dan akhirnya pertandingan sepak bola akan kacau karena hilangnya kepercayaan pada setiap keputusan yang diambil wasit.
Ke depan akan mudah setiap tim menuduh wasit tidak fair dan bisa diatur kekuasaan politik. Hanya sehari setelah keputusan kontroversial tersebut, tim Mesir menuduh ada rekayasa atas kekalahan mereka 2-3 dari juara bertahan Argentina.
Keputusan yang tidak konsisten dari wasit Francois Letexier asal Prancis untuk memeriksa VAR atas pelanggaran yang dialami bek Argentina Lisandro Martinez, tetapi tidak pada pelanggaran yang dialami Mohamed Salah, dianggap bagian dari intervensi FIFA untuk menyenangkan satu pihak. Kalau kondisi seperti itu terus dibiarkan, nasib sepak bola dunia akan sama seperti kompetisi di Indonesia yang kehilangan kredibilitasnya. Sayang!

















































