Coco Gauff gagal melaju ke final Wimbledon setelah kalah dramatis dari Karolina Muchova. Meski terpukul karena melewatkan match point, Gauff tetap optimistis.(Wimbledon)
LANGKAH petenis putri peringkat tujuh dunia, Coco Gauff, harus terhenti di babak semifinal Wimbledon setelah menelan kekalahan dramatis dari Karolina Muchova pada Kamis waktu setempat. Meski kecewa, Gauff menegaskan pencapaian perdananya menembus babak empat besar di turnamen ini menjadi bukti nyata dirinya semakin dekat untuk meraih gelar juara.
Pertandingan tersebut berjalan layaknya rollercoaster. Gauff sempat bangkit setelah kehilangan set pertama untuk memaksakan babak penentuan (match tie-break). Namun, pada kedudukan 9-8 di set penentu, ia gagal memanfaatkan satu-satunya peluang match point yang didapat setelah pukulan drop shot-nya tertahan di net.
Tak berselang lama, Muchova berhasil mengonversi peluang keduanya untuk menyudahi perlawanan Gauff dengan skor akhir 6-2, 1-6, 7-6 [12-10] dalam laga sengit yang berdurasi 2 jam 35 minutes.
Seusai pertandingan, juara Grand Slam dua kali itu mengakui ia akan terus terbayang oleh kegagalan pukulan drop shot tersebut. "Saya hanya sedikit panik," aku Gauff.
"Saya akan memikirkannya malam ini. Saya tidak tahu apakah saya pernah kalah dalam pertandingan setelah sempat mendapat match point. Jika pernah, saya tidak ingat kapan terakhir kali itu terjadi. Saya tidak tahu berapa lama waktu yang saya butuhkan (untuk melupakannya)."
Namun, petenis asal Amerika Serikat itu menolak untuk terpuruk terlalu lama. Ia berkaca pada para petenis hebat dunia yang juga pernah mengalami momen menyakitkan serupa dalam karier mereka.
"Sejujurnya, saya rasa tidak akan lama. Saya melihat Roger [Federer] pernah kehilangan match point di sini [pada 2019], dan Jannik [Sinner] jelas di Roland-Garros [pada 2025]. Setiap juara hebat pasti pernah mengalami hal ini dalam karier mereka. Mungkin ini adalah sesuatu yang saya butuhkan untuk bisa berada di level mereka," tambahnya.
Gauff juga menyadari keputusannya melepaskan drop shot di momen krusial tersebut akan menuai kritik dari orang awam.
"Orang-macam yang tidak menonton tenis pasti akan bertanya, 'Mengapa kamu melakukan itu?'. Pada akhirnya, itulah pilihan yang saya ambil. Apakah itu pilihan yang tepat pada momen tersebut? Mungkin tidak. Namun, jika pukulan itu masuk, semua orang pasti akan memuji betapa hebatnya pukulan tersebut."
"Saya pikir ini menunjukkan bahwa saya ingin membuat keputusan yang lebih baik. Namun, dari situlah Anda belajar dan menjadi pemain yang lebih baik," jelasnya.
Bagi Gauff, kekalahan ini bukanlah sebuah tragedi. Ia tetap bersyukur atas pencapaiannya dan melihat masa depan yang cerah dalam karier tenisnya.
"Ini bukan cerita yang menyakitkan. Saya pikir ribuan orang akan dengan senang hati kalah di semifinal Wimbledon saat match point. Ini adalah sesuatu yang tentu tidak ingin saya alami lagi. Saya rasa ini akan membuat momen saya berikutnya ketika memenangkan pertandingan seperti ini menjadi jauh lebih manis."
"Butuh waktu untuk menempatkan diri saya di posisi-posisi ini demi menghilangkan kebiasaan lama dan membangun kebiasaan baru. Benci atau puji saya, Anda tidak bisa menyangkal kemajuan yang telah dicapai di turnamen ini. Saya tidak tahu, ada banyak hal positif. Hal ini membuat saya sangat bersemangat menatap masa depan," pungkas Gauff. (Wimbledon/Z-2)

















































