Jelang 500 Tahun Jakarta, Akademisi Soroti Dominasi Bahasa Asing di Ruang Publik sebagai Gejala Imperialisme Bahasa

2 weeks ago 11
Jelang 500 Tahun Jakarta, Akademisi Soroti Dominasi Bahasa Asing di Ruang Publik sebagai Gejala Imperialisme Bahasa Ilustrasi(Dok Istimewa)

MENJELANG peringatan lima abad (500 tahun) Kota Jakarta, perhatian terhadap pembangunan kota tidak hanya tertuju pada infrastruktur, transportasi, dan ekonomi, tetapi juga pada identitas kebahasaan yang membentuk wajah ibu kota. Hal tersebut disampaikan oleh Miftahulkhairah Anwar, dosen Linguistik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), saat menjadi narasumber dalam Simposium Kebudayaan Jakarta bertema "Sinergi Kerja Kebudayaan Menuju 5 Abad Jakarta" yang diselenggarakan pada 9 Juli 2026 di Artotel Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dan Program Studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sebagai bagian dari upaya merumuskan arah pembangunan kebudayaan Jakarta menjelang usia lima abad pada tahun 2027.

Dalam paparannya, Miftahulkhairah Anwar mengungkapkan hasil kajian lanskap linguistik yang menunjukkan makin dominannya penggunaan bahasa asing pada ruang publik. Fenomena tersebut tampak pada nama pusat perbelanjaan, layanan kesehatan, kuliner, perdagangan, jasa, hingga kawasan hunian yang lebih banyak menggunakan istilah asing dibandingkan bahasa Indonesia.

Menurutnya, lanskap linguistik bukan sekadar kumpulan papan nama atau reklame, melainkan representasi identitas kota sekaligus cermin arah kebudayaan suatu masyarakat.

"Bahasa adalah wajah kota. Ketika ruang publik Jakarta makin dipenuhi istilah asing, kita perlu bertanya: wajah siapa yang sebenarnya sedang kita tampilkan menjelang 500 tahun Jakarta?,” ujar Miftahulkhairah.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan bahasa asing secara masif bukan hanya persoalan pilihan bahasa, melainkan dapat dibaca sebagai gejala imperialisme linguistik, yaitu kondisi ketika bahasa global memperoleh legitimasi sebagai bahasa yang lebih modern, profesional, berkelas, dan bernilai ekonomi tinggi, sementara Bahasa Indonesia dan Bahasa Betawi semakin kehilangan ruang representasinya di ruang publik.

Apabila fenomena tersebut terus berlangsung tanpa keseimbangan, dikhawatirkan akan muncul berbagai konsekuensi, antara lain menurunnya vitalitas kosakata Bahasa Indonesia, berkurangnya produktivitas leksikal, terbentuknya hierarki bahasa dalam masyarakat, serta memudarnya identitas kebahasaan Jakarta sebagai ibu kota negara.

Namun demikian, Miftahulkhairah menegaskan bahwa solusi terhadap persoalan tersebut bukanlah menolak penggunaan bahasa asing. Sebaliknya, Jakarta sebagai kota global tetap membutuhkan keterbukaan terhadap bahasa internasional. Tantangan utamanya adalah bagaimana menghadirkan keseimbangan antara daya saing global dan penguatan identitas nasional.

Sebagai solusi, ia menawarkan pendekatan LinguisticEntrepreneurship (Kewirausahaan Linguistik), yaitu strategi pengembangan Bahasa Indonesia melalui penciptaan istilah-istilah yang tidak hanya benar secara kebahasaan, tetapi juga memiliki daya tarik estetis, nilai ekonomi, dan kekuatan merek yang mampu bersaing dengan istilah asing di ruang publik.

Melalui pendekatan tersebut, Bahasa Indonesia diposisikan bukan sekadar sebagai bahasa yang wajib digunakan berdasarkan regulasi, melainkan sebagai aset ekonomi dan budaya yang mampu meningkatkan daya saing pelaku usaha sekaligus memperkuat identitas kota. Ia juga mengusulkan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menginisiasi pengembangan padanan istilah premium dalam Bahasa Indonesia bagi dunia usaha sehingga pelaku bisnis memiliki alternatif penamaan yang modern, elegan, dan bernilai komersial tinggi tanpa harus bergantung pada istilah asing.

Menurutnya, pembangunan Jakarta menuju kota global harus berjalan seiring dengan penguatan identitas kebahasaan.

"Menjadi kota global bukan berarti menjadikan Bahasa Indonesia dan Bahasa Betawi sebagai tamu di tanahnya sendiri. Kota yang berkelas dunia justru adalah kota yang mampu mendunia tanpa kehilangan jati diri bahasanya," tegasnya.

Menutup paparannya, Miftahulkhairah mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan momentum 500 Tahun Jakarta sebagai titik balik untuk membangun wajah kota yang modern sekaligus berakar pada identitas nasional dan budaya lokal.

"Jakarta boleh berbicara kepada dunia, tetapi dunia juga harus mengenal Jakarta melalui bahasanya,” pungkasnya. (H-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |