Ilustrasi--Warga berbelanja kebutuhan dapur di Pasar Modern BSD, Tangerang Selatan, Selasa (26/5/2026).(MI/AGUNG WIBOWO)
INDONESIA hingga saat ini masih menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan protein hewani dan bahan baku industri kulit secara mandiri. Pakar Genetika Ekologi dari IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, mengungkapkan bahwa ketergantungan terhadap impor sapi hidup, kerbau, hingga kulit sapi dari Australia masih sangat tinggi.
Menurut Prof Ronny, ketidakseimbangan antara produksi domestik dan permintaan pasar menjadi pemicu utama. Populasi sapi lokal, seperti sapi Bali dan Peranakan Ongole (PO), dinilai memiliki pertumbuhan yang lambat dengan tingkat produktivitas yang masih rendah. Selain itu, masalah distribusi menjadi kendala serius.
"Konsentrasi populasi sapi saat ini masih terpusat di wilayah Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Jawa Tengah. Sementara itu, titik permintaan tertinggi berada di Jakarta dan Jawa Barat. Distribusi yang belum merata ini memperlebar celah kebutuhan yang harus ditutup melalui impor," ujar Prof Ronny.
Lonjakan Permintaan dan Dominasi Australia
Kebutuhan daging dan produk turunan sapi diprediksi akan terus melonjak. Hal ini didorong oleh pertumbuhan kelas menengah, geliat industri hotel dan restoran, serta implementasi program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Australia menjadi mitra utama karena keunggulan geografis dan efisiensi biaya. Harga sapi hidup dari Negeri Kanguru tersebut berada di kisaran US$4 atau sekitar Rp71.000 per kilogram bobot hidup. Selain itu, kualitas ternak seperti sapi Brahman Cross dan sistem ekspor yang terorganisasi dengan baik membuat posisi Australia sulit tergantikan dalam jangka pendek.
Berikut adalah data proyeksi dan realisasi impor komoditas ternak dari Australia berdasarkan paparan Prof Ronny:
| Sapi Hidup (Proyeksi 2025) | 583.000 ekor / US$611,6 juta | Didominasi jenis Brahman Cross |
| Daging Sapi Beku | > 60% pangsa pasar | Termasuk ekspor jeroan senilai US$127 juta |
| Kulit Sapi (2023) | 1.031 ton / US$0,86 juta | Bahan baku industri & konsumsi (kerupuk) |
| Kerbau Hidup (2023) | US$3,54 juta | Impor dari Northern Territory, Australia |
Risiko Ekonomi dan Strategi Kedaulatan Pangan
Meski menguntungkan secara logistik, Prof Ronny memperingatkan adanya risiko kerentanan ekonomi. Ketergantungan pada satu sumber utama membuat Indonesia sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Australia (AUD). Depresiasi Rupiah secara otomatis akan meningkatkan biaya pengadaan pangan nasional.
"Ketergantungan ini berisiko terhadap stabilitas pasokan dan politik. Indonesia perlu memperluas sumber impor ke negara lain seperti India, Brasil, Amerika Serikat, dan Selandia Baru untuk menjaga ketahanan pangan dan kestabilan harga," tegasnya.
Sebagai langkah jangka panjang, ia menyarankan penguatan industri domestik di sektor feedlot (penggemukan), perkembangbiakan, dan pengolahan kulit. Selain itu, pemerintah dan pelaku industri disarankan melakukan pengelolaan risiko nilai tukar melalui instrumen hedging (lindung nilai) dan kontrak jangka panjang guna menjaga kedaulatan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. (Z-1)

















































