Indonesia dan Tiongkok Kembangkan Vaksin Dengue mRNA Pertama di Dunia

2 weeks ago 12
Indonesia dan Tiongkok Kembangkan Vaksin Dengue mRNA Pertama di Dunia Ilustrasi(Magnific.com)

TEKNOLOGI mRNA yang sebelumnya dikenal melawan virus covid-19 kini dikembangkan untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia kedokteran guna menghadang virus demam berdarah dengue.

Vaksin yang memanfaatkan materi genetik (gen preM-E) virus dengue strain asli Indonesia ini merupakan hasil riset bersama Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University (Tiongkok), dan PT Etana Biotechnologies Indonesia.

Momentum ini menjadi tonggak penting bagi kemandirian industri vaksin nasional. Jika berhasil, produk ini akan menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah, sekaligus menjadi antigen ke 6 yang mampu diproduksi Indonesia dari hulu ke hilir.

"Kalau ini berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Kamis (9/7).

Inisiatif percepatan ini menjadi buah pembelajaran dari masa pandemi covid-19, saat Indonesia tidak memiliki akses terhadap kebutuhan medis darurat seperti vaksin, alat terapeutik, dan diagnostik. Budi menjelaskan, sejak periode 2020-2022 pemerintah bertekad membangun fasilitas riset sendiri. Dari semula hanya ada satu perusahaan vaksin, kini Indonesia memiliki empat perusahaan, yaitu Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio.

Dari 16 jenis antigen yang dibutuhkan untuk program imunisasi rutin nasional, saat ini baru 11 antigen yang sudah mampu diproduksi lokal, dimana  terdapat 5 antigen yang diproduksi secara mandiri dari hulu mulai riset, pembuatan bibit vaksin, hingga manufaktur. Sementara 6 antigen lainnya masih sebatas proses perakitan (assembly) atau formulasi akhir karena bahan bakunya masih diimpor dari Tiongkok dan India.

"Target saya, sebelum tahun 2030, ke-11 antigen sisanya harus bisa kita produksi utuh dari hulu ke hilir," tegas dia.

Pemilihan dengue sebagai salah satu prioritas didasarkan pada tingginya angka kejadian kasus di Indonesia. Data Kemenkes mencatat setiap tahunnya terdapat sekitar 151 ribu kasus dengue dengan 650 kematian. Jumlah ini menempatkannya di antara penyakit dengan angka beban tinggi bersama TBC (1 juta kasus dengan 125 ribu kematian), HIV (570 ribu kasus dengan 25 ribu kematian), dan malaria (520 ribu kasus dengan 132 kematian).

"Kami memprioritaskan pengembangan vaksin baru berdasarkan beban insiden dan angka kematian tertinggi. Ibu-ibu tentu tidak ingin anaknya disuntik terlalu banyak jenis vaksin, jadi kita pilih yang benar-benar prioritas," jelas Budi.

Ia mengajak seluruh ilmuwan dan peneliti tanah air untuk mewujudkan hasil riset menjadi produk nyata yang menyelamatkan nyawa, bukan berhenti pada publikasi ilmiah semata.

Kerja sama ini telah dirintis sejak tahun 2023. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, mengungkapkan bahwa dirinya saat masih berstatus profesor mempertemukan tim peneliti UI dengan Profesor Zhang Linqi dari Tsinghua University, salah satu ahli vaksin terkemuka di dunia.

"Hampir semua vaksin manjur di dunia lahir dari riset di universitas. Model kerja sama seperti ini penting; kita tidak menandatangani MOU dulu baru bekerja, tapi justru mulai bekerja bersama secara sungguh-sungguh terlebih dahulu, baru MOU menyusul. Analisis kebutuhan, dukungan anggaran, dan komitmen kementerian, semuanya harus berjalan bersama," ungkapnya. (H-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |