Ilustrasi(Magnific)
KUNJUNGAN ke dokter gigi kerap menjadi momen yang dihindari banyak orang. Prosedur konvensional seperti penambalan atau pencabutan gigi sering kali memicu rasa cemas. Namun, pendekatan medis masa depan berpotensi mengubah pengalaman tersebut secara fundamental melalui kedokteran regeneratif.
Para ilmuwan global kini tengah merintis metode untuk menumbuhkan kembali jaringan gigi yang rusak, bahkan menumbuhkan organ gigi baru secara utuh, sebagai alternatif atas bahan sintetis maupun implan.
Inovasi ini dinilai sangat krusial mengingat kesehatan mulut berdampak besar pada kesehatan tubuh secara menyeluruh. Bakteri akibat penyakit gusi, misalnya, dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan infeksi saluran pernapasan. Sementara itu, kehilangan gigi berpotensi menurunkan kualitas hidup dan kesejahteraan emosional.
"Saat kami pertama kali memulai, satu hal menjadi sangat jelas bagi saya," ujar Hannele Ruohola-Baker, Associate Director di University of Washington Institute for Stem Cell and Regenerative Medicine. "Masyarakat sudah siap untuk sesuatu yang baru dalam kedokteran gigi."
Mengatasi Kerusakan Gigi Tanpa Tambalan Sintetis
Saat ini, kerusakan gigi akibat karies umumnya ditangani dengan membuang bagian yang membusuk lalu menambalnya menggunakan bahan buatan. Namun, solusi ini berisiko memerlukan penanganan berulang karena daya tahan bahan tambal yang terbatas.
Professor Biologi Oral di University of Illinois Chicago, Anne George, menjelaskan bahwa prosedur tradisional hanya berfokus pada perbaikan kerusakan, bukan memulihkan fungsi biologis. Menurutnya, kedokteran gigi regeneratif menawarkan pergeseran paradigma yang berfokus pada penyembuhan. Research yang dilakukannya menunjukkan bahwa pemahaman atas gen pembentuk dentin (lapisan di bawah email gigi) dapat merangsang gigi untuk memperbaiki dirinya sendiri secara alami.
Di sisi lain, tim Ruohola-Baker berfokus pada pembuatan "tambalan hidup" berbasis email. Melalui pemanfaatan sel punca, mereka berhasil menciptakan organoid gigi yang mampu mengintegrasikan protein email dan dentin. Teknologi ini diharapkan dapat melahirkan metode penambalan alami hingga penumbuhan gigi utuh di masa depan.
Mengembangkan Gigi di Laboratorium
Untuk kasus kerusakan parah, pencabutan dan pemasangan implan kerap menjadi pilihan utama. Kendati demikian, implan tidak memiliki saraf alami, berisiko memicu penumpukan bakteri, serta memerlukan penggantian berkala.
Dr. Ana Angelova Volponi, Director of Regenerative Dentistry di King's College London, menekankan pentingnya alternatif biologis yang lebih tahan lama.
"Daripada hanya mencoba menambal apa yang telah rusak, kita bisa menggunakan pengganti biologis," kata Volponi.
Tim peneliti lain, seperti Pamela Yelick dari Tufts School of Dental Medicine, juga berhasil menumbuhkan struktur menyerupai gigi menggunakan kombinasi sel pembentuk dentin dan email pada media penyangga biologis (bioengineered scaffold).
"Bahkan jika seekor babi dipotong untuk diambil dagingnya, ada tunas gigi di rahangnya yang siap membentuk gigi lain," kata Yelick mengenai pemanfaatan sel untuk membuktikan konsep penumbuhan gigi tersebut.
Tantangan dan Prospek Masa Depan
Meskipun potensi penumbuhan kembali gigi menjanjikan, penerapannya pada manusia masih membutuhkan waktu yang panjang. Para peneliti harus melalui tahap uji coba pada primata nonmanusia, pengujian klinis, serta pemenuhan regulasi keamanan yang ketat.
Kendati demikian, riset kedokteran gigi regeneratif ini juga memberikan kontribusi penting bagi pengembangan organ dan jaringan tubuh lainnya di bidang medis secara luas. (BBC/Z-2)

















































