Ilustrasi(Magnific)
Minuman manis selama ini dikenal sebagai salah satu penyebab utama berbagai masalah kesehatan fisik, mulai dari obesitas hingga diabetes tipe 2. Namun, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa dampaknya kemungkinan tidak hanya dirasakan oleh tubuh, tetapi juga merambah pada kesehatan mental, khususnya pada kelompok usia muda.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Human Nutrition and Dietetics menemukan adanya hubungan signifikan antara konsumsi minuman manis dengan meningkatnya risiko gangguan kecemasan pada remaja. Penelitian yang diulas oleh Healthline ini memperkuat teori mengenai kaitan erat antara pola makan (nutrisi) dengan kondisi psikologis seseorang.
Risiko Kecemasan Meningkat 34 Persen
Peneliti dari Bournemouth University melaporkan bahwa remaja yang memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman manis dalam jumlah tinggi memiliki risiko sekitar 34% lebih besar mengalami gejala kecemasan dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.
Temuan ini diperoleh melalui tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap sembilan penelitian berbeda. Dari total studi yang dianalisis, tujuh di antaranya menemukan hubungan positif yang signifikan antara konsumsi minuman berpemanis dan meningkatnya gejala kecemasan pada anak muda.
Meski demikian, para peneliti memberikan catatan penting bahwa hasil ini menunjukkan adanya hubungan atau asosiasi. Artinya, penelitian ini belum menjadi bukti mutlak bahwa minuman manis secara langsung merupakan penyebab tunggal gangguan kecemasan.
Chloe Casey, salah satu penulis studi sekaligus dosen nutrisi di Bournemouth University, menyatakan bahwa selama ini upaya kesehatan masyarakat lebih banyak berfokus pada dampak fisik dari pola makan tidak sehat. "Meskipun pada tahap ini kami belum dapat memastikan apa penyebab langsungnya, penelitian ini telah mengidentifikasi adanya hubungan yang tidak sehat antara konsumsi minuman manis dengan gangguan kecemasan pada anak muda," ujar Casey.
Ia menambahkan bahwa kasus gangguan kecemasan pada remaja meningkat cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, mengidentifikasi kebiasaan hidup yang dapat diubah menjadi sangat krusial untuk menekan tren tersebut.
Mengapa Gula Memengaruhi Mental?
Para ahli menilai salah satu kemungkinan penyebabnya berkaitan dengan fluktuasi kadar gula darah yang drastis. Whitney Linsenmeyer, ahli gizi dan juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics, menjelaskan bahwa minuman manis tergolong sebagai sumber "kalori kosong".
"Minuman manis mengandung banyak kalori tetapi hampir tidak memiliki nilai gizi. Gula dalam minuman tersebut diserap tubuh dengan sangat cepat, menyebabkan lonjakan dan penurunan kadar gula darah dalam waktu singkat," jelas Linsenmeyer. Fluktuasi ekstrem inilah yang diduga berkontribusi terhadap ketidakstabilan emosi dan masalah kesehatan lainnya.
Dana Hunnes, ahli diet senior di UCLA Health, menambahkan bahwa apa yang kita konsumsi dapat memengaruhi kadar hormon penting. "Pola makan dapat memengaruhi hormon termasuk serotonin dan dopamin, yang pada akhirnya memengaruhi kesehatan mental," tuturnya.
Bukan Hanya Soda: Waspadai "Gula Tersembunyi"
Kategori minuman manis tidak terbatas pada minuman bersoda saja. Linsenmeyer mengingatkan bahwa banyak jenis minuman lain yang mengandung gula tambahan tinggi, di antaranya:
- Minuman energi (seringkali mengandung gula lebih tinggi dari soda).
- Susu berperisa.
- Kopi siap minum (ready-to-drink).
- Teh manis kemasan.
- Limun atau sari buah dengan pemanis.
Sebagai perbandingan, satu kaleng minuman bersoda ukuran 12 ons mengandung sekitar 39 gram gula tambahan. Sementara itu, minuman energi dengan ukuran yang sama dapat mengandung hingga 41 gram gula.
Data CDC: Lebih dari 60% anak dan remaja mengonsumsi setidaknya satu minuman manis setiap hari. Konsumsi berlebihan ini dikaitkan dengan risiko penyakit jantung, penyakit hati berlemak nonalkohol, asam urat, hingga kerusakan gigi.
Faktor Gaya Hidup Menyeluruh
Wesley McWhorter, ahli gizi dari Academy of Nutrition and Dietetics, menekankan bahwa tingginya konsumsi gula seringkali merupakan bagian dari pola hidup yang kurang sehat secara keseluruhan. Faktor-faktor seperti kurang tidur, kualitas diet yang rendah, dan tingkat stres yang tinggi saling berkaitan dalam memengaruhi risiko kecemasan.
"Pola makan yang didominasi makanan olahan dan tinggi gula dapat memperburuk ketidakstabilan kondisi tubuh. Sebaliknya, menu seimbang yang mengandung protein, serat, dan lemak sehat dapat membantu menjaga energi tetap stabil sekaligus mendukung suasana hati yang lebih baik," kata McWhorter.
Tips Mengurangi Konsumsi Minuman Manis
Para ahli menyarankan beberapa langkah praktis untuk beralih ke kebiasaan yang lebih sehat:
- Anggap sebagai Hidangan Penutup: Perlakukan minuman manis sebagai dessert yang dikonsumsi sesekali, bukan sebagai sumber hidrasi utama.
- Pilih Air Berkarbonasi: Gunakan air berkarbonasi tanpa gula dengan perisa alami atau sedikit campuran jus buah asli.
- Infused Water: Gunakan potongan buah segar seperti lemon, stroberi, atau jeruk untuk memberi rasa pada air putih.
- Alternatif Lain: Teh herbal tanpa pemanis atau susu tanpa tambahan gula.
Mengurangi konsumsi minuman manis bukan hanya investasi untuk kesehatan fisik jangka panjang, tetapi juga langkah preventif yang penting untuk menjaga ketahanan mental remaja di masa depan. (Sumber: Healthline)

















































