Kelompok Houthi di Yaman umumkan embargo maritim dan penutupan Selat Bab al-Mandab bagi kapal Arab Saudi sebagai balasan atas pemblokadean pelabuhan.(EPA)
KELOMPOK Houthi di Yaman mengumumkan "embargo maritim" terhadap Arab Saudi yang berlaku segera. Langkah retaliasi ini diambil sebagai balasan atas aksi blokade yang dilakukan pihak Arab Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah barat laut Yaman yang dikuasai Houthi.
Meski rincian teknis embargo belum dirinci secara menyeluruh, pejabat media Houthi mengonfirmasi bahwa mereka menutup Selat Bab al-Mandab, jalur gerbang selatan Laut Merah, bagi seluruh kapal milik Arab Saudi.
Menanggapi tuduhan tersebut, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam keras dan berjanji akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk melindungi kapal-kapalnya sesuai dengan hukum internasional.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, menyatakan tindakan ini merupakan respons atas pengepungan berulang yang dialami rakyat Yaman.
"Arab Saudi telah melakukan pengepungan yang tidak adil dan menindas terhadap rakyat kami yang tercinta selama hampir 12 tahun, merampas sumber daya kami, dan menerapkan blokade menyeluruh terhadap pelabuhan dan bandara kami melalui darat, laut, dan udara," tegas Sarea.
Ia menambahkan bahwa keputusan embargo maritim terhadap Arab Saudi ini didasarkan pada prinsip "mata dibalas mata".
"Setiap tindakan bodoh yang dilakukan oleh musuh Arab Saudi melalui segala bentuk eskalasi akan dibalas dengan eskalasi yang menyeluruh dan tegas," tambahnya.
Wakil Kepala Kantor Media Houthi, Nasruddin Amer, menegaskan kembali melalui platform X bahwa pasukan mereka secara resmi "menutup Bab al-Mandab bagi kapal-kapal musuh Arab Saudi."
Eskalasi ini terjadi hanya sepekan setelah perselisihan kedua pihak kembali memanas sejak gencatan senjata informal diberlakukan pada 2022. Houthi mengklaim telah meluncurkan rudal ke Bandara Abha di Arab Saudi sebagai balasan atas serangan udara di Bandara Sanaa. Pihak pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mengklaim serangan udara itu bertujuan mencegah pesawat Iran mendarat tanpa izin.
Selat Bab al-Mandab merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dunia, terutama setelah terganggunya Selat Hormuz. Arab Saudi bahkan telah mengalihkan lebih dari 70 persen ekspor minyak mentahnya ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk menghindari titik konflik lain.
Pengamat risiko dari lembaga Basha Report yang berbasis di AS, Mohammed Albasha, menilai ancaman ini sudah cukup memicu gangguan tajam.
"Bahkan jika tidak ada kapal yang diserang, pengumuman ini saja berpotensi mengganggu pelayaran dan menciptakan ketidakpastian bagi pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi. Apakah Houthi akan bergerak dari sekadar ancaman menjadi aksi langsung tetap menjadi isu yang sangat krusial," ungkapnya. (BBC/Z-2)

















































