Hama Tikus Serang 353 Hektare Sawah di 24 Daerah Jawa Tengah

2 weeks ago 20
Hama Tikus Serang 353 Hektare Sawah di 24 Daerah Jawa Tengah Ilustrasi serangan hama tikus d Jawa Tengah.(Dok.Istimewa)

HAMAN tikus menyerang 353 hektare tanaman padi di 24 kabupaten dan kota di Jawa Tengah sejak Juni 2026. Meski belum mengganggu produksi padi secara keseluruhan, serangan tersebut menyebabkan penurunan hasil panen di sejumlah wilayah dan menimbulkan keresahan di kalangan petani.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Jawa Tengah, Defrancisco Dasilva Tavares, mengatakan musim kemarau menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya serangan hama tikus di lahan persawahan.

"Hama tikus telah menyerang 353 hektare lahan pertanian di 24 daerah di Jawa Tengah sejak Juni lalu. Kondisi ini dipengaruhi musim kemarau yang membuat tikus semakin agresif menyerang tanaman padi," kata Defrancisco, Rabu (8/7).

Menurutnya, meski luas serangan cukup signifikan, kondisi tersebut belum berdampak terhadap produksi padi Jawa Tengah secara keseluruhan. Namun, petani yang lahannya terdampak tetap mengalami kerugian akibat turunnya hasil panen.

LANGKAH PENGENDALIAN
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, lanjut Defrancisco, telah menyiapkan sejumlah langkah pengendalian, mulai dari penyaluran pestisida hingga pemanfaatan burung hantu sebagai predator alami tikus.

"Pemerintah mulai membagikan pestisida untuk mencegah penyebaran hama lebih luas. Kami juga akan membantu penyebaran burung hantu sebagai predator alami untuk menekan populasi tikus," ujarnya.

Data Distanak Jawa Tengah mencatat Kabupaten Pemalang menjadi daerah dengan serangan terluas, yakni 62 hektare. Selanjutnya Kabupaten Purworejo 46 hektare, Grobogan 39 hektare, Banyumas 33 hektare, dan Boyolali 24 hektare. Sementara itu, daerah lainnya mencatat luas serangan antara 5 hingga 10 hektare.

Defrancisco mengimbau petani segera melaporkan serangan hama kepada dinas pertanian setempat agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

"Kami meminta petani yang lahannya terserang segera melapor ke dinas pertanian di daerah masing-masing agar penanganan bisa dilakukan sejak dini dan tidak meluas," katanya.

PASANG ALIRAN LISTRIK
Di tingkat petani, serangan hama tikus mulai memicu kekhawatiran karena terjadi saat sebagian wilayah memasuki musim kemarau. Selain melakukan pengendalian secara gotong royong melalui penggeropyokan tikus, sebagian petani mengambil langkah ekstrem dengan memasang aliran listrik di sekitar sawah untuk menghalau hama yang aktif pada malam hari.

"Kami terpaksa memasang aliran listrik karena khawatir tanaman padi habis diserang tikus dan menyebabkan gagal panen," kata Sarmo (59), petani di Kabupaten Grobogan.

Kurniyah, petani di Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, mengaku serangan tikus membuat petani harus bekerja lebih keras memburu hama. Meski demikian, sejumlah petak sawah tetap mengalami kerusakan sehingga tidak dapat dipanen.

Sementara itu, Sugandi, petani di Kabupaten Semarang, mengatakan serangan tikus hampir selalu muncul setiap musim kemarau. Karena itu, petani rutin menggelar penggeropyokan secara massal untuk menekan populasi hama.

"Bersama ratusan petani kami langsung melakukan penggeropyokan setiap kali serangan muncul agar tidak semakin meluas," ujar Wiwit, petani di Banyubiru, Kabupaten Semarang. (E-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |