Gurun Sahara dan Laut Tethys: Kisah Perubahan Afrika Utara Jutaan Tahun Lalu

3 hours ago 1
 Kisah Perubahan Afrika Utara Jutaan Tahun Lalu Ilustrasi(magnifik)

Gurun Sahara dikenal sebagai gurun panas terbesar di dunia sekaligus gurun terbesar ketiga setelah Antarktika dan Arktik. Membentang di Afrika Utara dengan luas sekitar 9,2 juta kilometer persegi, kawasan yang kini didominasi hamparan pasir itu ternyata memiliki sejarah yang panjang. 

Tapi, pernahkah terbayangkan bahwa sekitar 7 juta tahun lalu, kawasan yang kini menjadi Sahara berkaitan dengan menyusutnya Laut Tethys, cikal bakal Laut Mediterania? 

Laut Tethys yang Menyusut dan Berubah Jadi Sahara

Sekitar 200 juta tahun lalu, ketika superbenua Pangaea mulai terpecah, sebuah laut raksasa bernama Tethys terbentuk di antara benua Afrika dan Eurasia. Laut purba ini kemudian mengalami perubahan seiring pergerakan kedua benua.

Sekitar 100 juta tahun kemudian, Afrika dan Eurasia mulai bergerak saling mendekat sehingga wilayah Tethys perlahan menyusut. Hingga sekitar 5,5 juta tahun lalu, laut tersebut terpecah dan membentuk sejumlah perairan yang dikenal saat ini, termasuk Laut Mediterania, Laut Kaspia, dan Laut Hitam.

Keberadaan Tethys turut memengaruhi pola kelembapan di Afrika Utara. Saat laut purba tersebut masih berukuran besar, perbedaan suhu antara permukaan Tethys yang hangat dan daratan di sekitarnya yang lebih dingin diperkirakan membantu menggerakkan aliran udara yang membawa uap air dari Atlantik tropis melintasi Afrika Utara saat musim monsun.

Kondisi itu perlahan berubah ketika Tethys menyusut dan semakin banyak daratan terbuka. Aliran uap air menuju Afrika Utara ikut melemah sehingga curah hujan di kawasan Sahara berkurang.

Perubahan tersebut berlangsung secara bertahap. Wilayah yang semakin jarang mendapat hujan kemudian menjadi makin kering hingga pada akhirnya berkembang menjadi kawasan gurun.

Sahara Pernah Hijau

Namun, perubahan menuju kondisi kering tidak serta-merta mengubah seluruh Sahara menjadi gurun seperti yang dikenal sekarang. Pada masa sebelumnya, kawasan ini justru pernah jauh lebih basah dan mendukung kehidupan tumbuhan serta satwa yang beragam. 

Kondisi yang lebih lembap memungkinkan berbagai jenis tumbuhan tumbuh di kawasan yang kini didominasi gurun. Flora Sahara diperkirakan mencakup sekitar 1.200 spesies, yang sebagian besar mampu beradaptasi dengan lingkungan kering. Di wilayah yang lebih lembap, tumbuh pula halofit, sedangkan akasia, tamariska, dan Calotropis procera dapat ditemukan di sepanjang wadi. 

Kehidupan satwa juga pernah berkembang lebih luas. Sahara menjadi habitat bagi berbagai mamalia, burung, dan reptil. Namun, ketika kondisi lingkungan semakin kering, populasi satwa turut menyusut. Perburuan berlebihan juga mempercepat penurunan sejumlah satwa besar, seperti burung unta, addax, beberapa jenis gazel, dan cheetah.

Jejak kehidupan yang dahulu menghuni kawasan ini menjadi gambaran bahwa Sahara tidak selalu berupa gurun tandus seperti yang dikenal saat ini. 

SumberScience News, Temehu

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |