Sebuah termometer menunjukkan suhu mencapai 37 derajat Celsius di luar kantor pusat Uni Eropa di Brussels, Belgia.(Dok. Ant/Xinhua/Lyu You/aa.)
WILAYAH Eropa Barat mencatatkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah pada Juni 2026. Sementara itu, suhu global secara keseluruhan menempati peringkat tertinggi kedua yang pernah tercatat untuk bulan yang sama.
Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S) Uni Eropa dalam pernyataan resminya pada Kamis (9/7), mengungkapkan bahwa fenomena panas ekstrem ini dipicu oleh pemanasan yang terus-menerus terjadi di wilayah daratan maupun lautan. Suhu permukaan laut bahkan mencapai titik tertinggi untuk periode Juni dalam basis data yang terekam.
Berdasarkan data C3S, rata-rata suhu udara permukaan global pada Juni 2026 mencapai 16,54 derajat Celsius. Di wilayah perairan, suhu permukaan laut rata-rata di luar kawasan kutub (antara 60 derajat lintang selatan dan 60 derajat lintang utara) menyentuh rekor baru sebesar 20,86 derajat Celsius.
Dampak El Nino dan Gelombang Panas
Kondisi suhu laut yang sangat tinggi dilaporkan terus berlanjut di sebagian besar wilayah Pasifik tropis. Hal ini sejalan dengan perkembangan fenomena El Nino yang diperkirakan akan semakin menguat dalam beberapa bulan ke depan.
Di daratan, gelombang panas parah (heatwave) melanda sebagian besar Eropa Barat dan Tengah selama paruh kedua Juni. Fenomena ini memecahkan rekor suhu bulanan, bahkan rekor suhu sepanjang masa di sejumlah negara. Eropa Barat sendiri mencatat suhu rata-rata 20,74 derajat Celsius, menjadikannya Juni terpanas yang pernah ada di wilayah tersebut.
Secara keseluruhan di benua Eropa, suhu daratan rata-rata mencapai 19,14 derajat Celsius, yang merupakan rekor tertinggi kedua untuk bulan Juni.
"Juni 2026 menggarisbawahi betapa dahsyatnya perubahan iklim," tegas Samantha Burgess, pemimpin strategis untuk iklim di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah di Eropa (ECMWF).
Risiko Kekeringan dan Kebakaran Hutan
Selain suhu yang menyengat, sebagian besar wilayah Eropa Barat juga mengalami kondisi cuaca yang lebih kering dari rata-rata. Tekanan tinggi yang persisten dan gelombang panas yang berulang meningkatkan risiko kekeringan, terutama di Eropa Timur.
Kondisi tanah yang kering di Eropa Barat dan Tengah, yang sudah terbentuk sejak gelombang panas pada Mei lalu, dilaporkan semakin memburuk. Hal ini memicu peningkatan aktivitas kebakaran hutan, khususnya di wilayah Semenanjung Iberia dan Prancis bagian selatan.
Penyusutan Es di Kutub
Krisis iklim ini juga berdampak signifikan pada wilayah kutub. Luas es laut Arktik pada Juni 2026 berada sekitar 5 persen di bawah rata-rata, menempati peringkat keenam terendah. Penurunan paling tajam terlihat di Laut Barents utara, terutama di sekitar wilayah Svalbard dan Franz Josef Land.
Kondisi serupa terjadi di Antartika, di mana luas es laut tercatat sekitar 8 persen di bawah rata-rata, yang juga menempati peringkat keenam terendah untuk bulan Juni dalam catatan sejarah.

















































