Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah pengamat tidak percaya bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump marah betulan terhadap Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu.
Beberapa pengamat politik mengatakan kepada Al Jazeera bahwa amarah Trump ke Netanyahu cukup janggal karena bertentangan dengan kenyataan di lapangan.
Menurut laporan beberapa media Barat baru-baru ini, Trump marah kepada Netanyahu karena kebijakannya tak sejalan dengan Washington. Amarah itu disampaikan melalui telepon, yang dibocorkan oleh sumber secara anonim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski dikabarkan marah, pada faktanya dukungan AS terhadap Israel tak pernah goyah.
Para analis pun curiga Trump menggunakan percakapan bocor sebagai taktik untuk menggiring opini publik.
Pada Senin (1/6), Axios mengutip sumber yang mengatakan bahwa Trump sempat memaki Netanyahu karena terus menyerang Lebanon. Trump digambarkan sangat kesal hingga menyebut Netanyahu "gila".
Isabelle Hayslip, manajer advokasi kelompok hak asasi manusia DAWN, sangsi bahwa amarah tersebut nyata. Karena pada faktanya, terlepas dari apa pun pemberitaan, kebijakan Trump tetap selaras dengan kepentingan Israel.
"Laporan dari satu sumber yang menggambarkan Trump sebagai pemimpin otoritas yang mengangkat telepon dan berteriak pada Netanyahu karena merusak kebijakan AS bertentangan dengan hasil kebijakan sebenarnya di mana Netanyahu mendapatkan persis apa yang dia inginkan," kata Hayslip kepada Al Jazeera.
"Trump tidak memiliki wewenang penuh atas tindakan Israel. Seperti pendahulunya, presiden telah terbukti sama sekali tidak mampu memprioritaskan kepentingan Amerika, dan malah melayani keinginan ekspansionis Israel," imbuhnya.
Trump belakangan menghadapi tekanan yang kian besar dari para rival Demokratnya serta sebagian basis pendukungnya imbas penanganan AS terhadap perang Iran.
Konflik ini menyebabkan berbagai negara dilanda krisis energi buntut penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Para kritikus menilai Trump membiarkan Israel menyeret AS ke dalam pusara perang yang sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk Washington.
Negosiasi AS-Iran untuk mengakhiri perang juga terus mandek, ditambah eskalasi Israel di Lebanon membuat Teheran marah sehingga gencatan senjata AS-Iran berisiko runtuh.
Situasi ini tentu tidak baik untuk AS, apalagi Trump.
Menurut Negar Mortazavi, peneliti senior di Center for International Policy, bocornya percakapan telepon penuh amarah Trump kemungkinan sengaja dibuat untuk menunjukkan Trump bersikap tegas terhadap Israel.
"Ini bisa jadi semacam cara untuk meredam kemarahan publik maupun pandangan buruk terhadap AS karena terus melanjutkan perang yang tidak disetujui warga, ilegal, dan tidak perlu ini," ujarnya kepada Al Jazeera.
Mortazavi menduga bahwa Trump ingin memberi pesan bahwa dirinya "sangat marah pada Israel" hingga meneriaki dan memanggil pemimpinnya dengan sebutan tidak pantas.
Namun demikian, Mortazavi menekankan bahwa hal itu tidak mengubah fakta di lapangan.
Menurut Ryan Costello, direktur kebijakan di National Iranian American Council Action (NIAC), bocornya amarah Trump ke Netanyahu ini justru tampaknya ditujukan untuk Iran.
"Saya melihat ini terutama sebagai sinyal kepada Iran bahwa Trump serius, dan dia ingin memisahkan apa yang terjadi di Lebanon dan serangan Israel dari negosiasi Iran," ujar Costello kepada Al Jazeera.
Meski begitu, Costello merasa publik masih perlu mengawasi sejauh mana amarah Trump bisa mengubah kebijakan Israel.
"Saya kira ada insentif yang kuat bagi Netanyahu untuk terus menentang," ucapnya.
Juru bicara Axios Jake Wilkins telah buka suara mengenai spekulasi pemberitaannya. Axios menegaskan pihaknya senantiasa berpegang pada prinsip kebenaran.
"Kami tetap berpegang pada pemberitaan kami, yang kebetulan mencatat Trump dan Netanyahu telah beberapa kali melakukan percakapan telepon tegang di masa lalu tetapi tetap berkoordinasi erat mengenai Iran dan isu-isu lainnya," kata Wilkins kepada Al Jazeera.
(blq/dna)
Add
as a preferred source on Google

9 hours ago
2






































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)










