Selat Hormuz(BBC)
MENTERI Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan negara-negara Eropa memerlukan persetujuan dari Iran dan Oman sebelum meluncurkan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz, Rabu (8/7).
"Jerman, bersama beberapa negara lain, di bawah kepemimpinan Inggris dan Prancis, pada prinsipnya siap terlibat dalam operasi pembersihan ranjau karena hal itu jelas menjadi ancaman bagi semua kapal yang ingin melintasi selat tersebut," katanya kepada Al Jazeera.
Namun, Wadephul mengingatkan bahwa situasi harus benar-benar kondusif agar operasi tersebut dapat dimulai. Oleh karena itu, kesepakatan dengan Oman dan Iran mutlak diperlukan agar kedua negara tersebut menyetujui satuan tugas Eropa menjalankan misinya.
Wadephul juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi ketegangan yang terus meningkat di Selat Hormuz. Ia mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk segera menghentikan permusuhan dan kembali ke meja perundingan.
Sebelumnya pada Rabu (8/7) dini hari, militer AS telah melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal niaga di Selat Hormuz.
Pascaserangan tersebut, Presiden AS Donald Trump secara sepihak menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran tidak lagi berlaku.
Merespons tindakan Washington, pihak Iran menuduh AS telah melanggar Nota Kesepahaman Islamabad. Teheran kemudian melancarkan serangan balasan yang membidik pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. (Ant/Sputnik/P-4)

















































