Para narasumber diskusi mantan Wali Kota Tegal, Maufur (paling kanan), Gol A Gong (tengah), Budayawan Pantura, Atmo Tan Sidik dan dalang Ki Anton Surono (moderator).(MI/SUPARDJI RASBAN)
MEMBANGUN peradaban seyogyanya harus memadukan antara “wah dan woh”. Wah yang sebenarkan menyiratkan kata seru atas sesuatu yang dianggap hebat (ada unsur kesombongan), dan woh merujuk pada buah. Yakni semua perbuatan pada akhirnya harusnya membuahkan sesuatu yang baik bagi kemaslahatan bersama, bukan sekadar wah
Hal itu disampaikan Gol A Gong, dalam diskusi Moci Bareng bertajuk “Mbangun Kota Tegal Apike Luruh Wah Apa Woh” (Membangun Kota Tegal baiknya mencari popularitas apa berbuah baik). Acara di helat di Rumah Sastra Poiek Ardijanto, Rabu (8/7/2026) malam.
Dalam kesempatan tersebut, Gol A Gong mencoba membedah dikotomi wah dan woh dengan mengomparasikan khazanah literasi dari tanah kelahirannya, Banten. Gong merujuk salah satu bait Babad Banten, baluwarti bata kawan-kawis.
”Para budayawan menafsirkan bata (batu bata) sebagai unsur lokal, sedangkan karang di laut sebagai unsur luar. Membangun peradaban itu memang harus mengombinasikan keduanya,” ujar Gol A Gong.
Gol A Gong menyebut jika fenomena perpaduan ini, sesungguhnya sudah terlihat nyata tatkala Gol A Gong mencontohkan bagaimana dalang Ki Surono yang sebagai moderator mampu menyelipkan kemampuan bahasa Inggris yang terkesan wah, namun tetap kukuh berpijak pada kelokalan yang utuh.
Bagi Gol A gong hal itu mengingatkan pesan Nabi Muhammad SAW agar mendidik anak cucu sesuai dengan zamannya. “Para filsuf pun sepakat, kunci keberhasilan bukan sekadar kecerdasan, melainkan kemampuan beradaptasi,” terang Gol A Gong.
Gol A Gong juga mengupas terkait evolusi peradaban manusia. Mulai dari manusia gua yang melukis di dinding, penemuan kertas oleh Cai Lun di Tiongkok yang sempat ditolak kaum konservatif, lahirnya mesin cetak Gutenberg, era mesin ketik, hingga komputer dan smartphone yang merajai era kecerdasan buatan (AI) saat ini.
”Mereka yang mendambakan masa lalu dan menolak perubahan akan tersingkir. Urusan wah dan woh di Tegal pun begitu, kita harus mulai beradaptasi. Keduanya, seperti yang dikatakan Pak Wakil Wali Kota, harus jalan berdampingan,” paparnya.
Pada ranah yang lain Gol A Gong juga menyoroti tantangan birokrasi dalam pengembangan literasi nasional yang kerap terjebak ego sektoral. Di Indonesia, urusan ini terbelah antara Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (melalui Badan Bahasa) serta Perpustakaan Nasional (Perpusnas).
Berangkat dari pengalamannya memimpin Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) periode 2010–2015, Gol A Gong kini digandeng Perpusnas untuk menjembatani jurang pemisah tersebut.
”Saya sekarang mencoba menyatukan gerak antara Dinas Pendidikan dan Dinas Perpustakaan di daerah-daerah agar tidak ada lagi ego sektoral,” tegas Gol A Gong.
Menurutnya, Rumah Sastra Piek Ardijanto Soeprijadi sendiri merupakan aset penting yang diakui sebagai bagian dari upaya merawat literasi dan bahasa.
“Melalui ruang-ruang dialog seperti moci bareng inilah, keselarasan antara kemajuan zaman (wah) dan buah kemanfaatan bagi masyarakat (woh) bisa terus dirumuskan demi kemajuan Kota Bahari,” pungkasnya.
Diskusi yang berlangsung di bawah rerimbunan pohon mangga di depan rumah Almarhum sastrawan legendaris Piek Harjanto ini, juga dihadiri Wakil Wali Kota Tegal, Tazkiyyatul Muthmainnah, mantan Wakil Wali Kota Tegal, Maufur, dan budayawan Atmo Tan Sidik, hingga dalang kondang Ki Anton Surono yang bertindak sebagai moderator. (H-2)

















































