Dulu Berhutan Tropis, Kini Tertutup Es: Begini Proses Antartika Menjadi Benua Beku

2 weeks ago 18
 Begini Proses Antartika Menjadi Benua Beku Ilustrasi(Magnific)

SAAT mendengar nama Antartika, sebagian besar orang akan langsung membayangkan hamparan es yang luas, suhu ekstrem, dan kehidupan yang sangat terbatas. Namun, siapa sangka, jutaan tahun lalu benua paling selatan di Bumi ini justru memiliki iklim yang hangat dan ditutupi hutan lebat.

Fakta tersebut dibuktikan melalui berbagai penemuan fosil, salah satunya fosil tumbuhan purba Glossopteris yang ditemukan di dekat Gletser Beardmore oleh tim ekspedisi Kapten Robert Falcon Scott pada 1912. Setelah diteliti, fosil itu menunjukkan Antartika pernah ditumbuhi pepohonan besar, sesuatu yang mustahil terjadi apabila wilayah tersebut selalu diselimuti es.

Tak hanya itu, fosil Glossopteris juga ditemukan di Amerika Selatan, Afrika, India, dan Australia. Kesamaan fosil-fosil tersebut menjadi salah satu bukti penting bahwa kelima benua itu dahulu pernah menyatu dalam superbenua Gondwana, sebelum akhirnya terpisah akibat pergerakan lempeng tektonik.

Lantas, mengapa Antartika yang dulunya hijau bisa berubah menjadi benua es?

Pergerakan Benua

Menurut penjelasan dalam laman Discovering Antarctica, proses membekunya Antartika berlangsung sangat lama, yakni selama puluhan hingga ratusan juta tahun.

Sekitar 200 juta tahun lalu, Antartika masih bergabung dengan Afrika, Amerika Selatan, India, Australia, dan Selandia Baru sebagai bagian dari Gondwana. Seiring waktu, pergerakan lempeng tektonik membuat daratan tersebut perlahan terpecah.

Antartika kemudian bergerak semakin jauh ke selatan hingga akhirnya berada tepat di sekitar Kutub Selatan. Perubahan posisi ini menyebabkan benua tersebut menerima lebih sedikit energi Matahari dibandingkan wilayah tropis, sehingga suhu mulai menurun.

Meski demikian, para ilmuwan menjelaskan bahwa letak geografis saja tidak cukup menjelaskan mengapa Antartika menjadi sedingin sekarang.

Gas Rumah Kaca yang Menurun Mempercepat Pendinginan

Sekitar 100 juta tahun lalu, kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer Bumi masih jauh lebih tinggi daripada saat ini. Konsentrasi gas rumah kaca yang tinggi membuat suhu global tetap hangat sehingga es dalam jumlah besar belum dapat terbentuk, bahkan di wilayah kutub.

Namun, memasuki sekitar 55 juta tahun lalu, kadar gas rumah kaca mulai menurun secara bertahap. Penurunan ini menyebabkan suhu rata-rata Bumi ikut turun dan menciptakan kondisi yang lebih mendukung terbentuknya gletser di Antartika.

Perubahan iklim global tersebut menjadi salah satu faktor penting yang mengawali pembentukan lapisan es permanen di benua tersebut.

Arus Laut Mengisolasi Antartika dari Kehangatan

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah perubahan bentuk benua dan lautan.

Sekitar 40 juta hingga 35 juta tahun lalu, Australia dan Amerika Selatan semakin menjauh dari Antartika. Pemisahan tersebut membuka jalur laut yang memungkinkan terbentuknya Arus Sirkumpolar Antarktika (Antarctic Circumpolar Current), yaitu arus laut yang mengelilingi Antartika tanpa terhalang daratan.

Arus ini berfungsi layaknya penghalang alami yang mencegah air hangat dari wilayah tropis mencapai pesisir Antartika. Akibatnya, benua tersebut menjadi semakin terisolasi dari sumber panas dan suhunya terus menurun.

Para ilmuwan menilai pembentukan arus laut ini menjadi salah satu penyebab utama Antartika berubah menjadi benua yang sangat dingin.

Lapisan Es Terbentuk Secara Bertahap

Bukti dari batuan dan sedimen dasar laut menunjukkan bahwa gletser mulai terbentuk di Antartika sekitar 38 juta tahun lalu.

Meski demikian, proses pendinginan berlangsung secara bertahap. Bahkan sekitar 14 juta tahun lalu, sebagian wilayah Antartika masih memiliki vegetasi tundra dengan kondisi yang diperkirakan mirip wilayah paling selatan Amerika Selatan saat ini.

Setelah itu, suhu terus turun. Lapisan Es Antartika Timur diperkirakan mencapai ukuran yang hampir sama dengan sekarang sekitar 13,8 juta tahun lalu. Sementara itu, Lapisan Es Antartika Barat baru berkembang sepenuhnya sekitar 6 juta tahun lalu.

Menariknya, pembentukan lapisan es besar di Antartika terjadi jauh lebih awal dibandingkan Belahan Bumi Utara yang baru mengalami pembentukan lapisan es sekitar 3 juta tahun lalu.

Pendinginan Antartika tidak berhenti setelah es mulai terbentuk. Sebaliknya, proses tersebut semakin dipercepat oleh mekanisme yang disebut umpan balik positif (positive feedback).

Ketika lapisan es meluas, permukaan putih Antartika memantulkan lebih banyak sinar Matahari kembali ke angkasa. Kemampuan suatu permukaan memantulkan cahaya ini dikenal sebagai albedo.

Karena lebih sedikit panas Matahari yang diserap, suhu permukaan menjadi semakin rendah. Kondisi yang lebih dingin membuat pembentukan es baru semakin mudah terjadi sehingga lapisan es terus meluas.

Selain itu, semakin tebal lapisan es, semakin tinggi pula permukaan Antartika. Daerah yang berada di ketinggian umumnya memiliki suhu lebih rendah, sehingga kondisi tersebut kembali mempercepat pembentukan es.

Meskipun berbagai faktor utama penyebab membekunya Antartika telah diketahui, para ilmuwan masih terus meneliti bagaimana seluruh proses tersebut saling berkaitan.
(Discovering Antartica/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |