CANTIKA.COM, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menetapkan kebijakan tarif impor minimal 10 persen terhadap semua produk yang masuk ke negaranya, serta berlaku untuk semua negara termasuk Indonesia pada Rabu, 2 April 2025.
Ini merupakan biaya timbal balik atau reciprocal tarif yang lebih tinggi sebagai respons balasan terhadap beberapa negara mitra dagang. “Resiprokal, itu berarti mereka (negara-negara mitra) menerapkannya kepada kita dan kita menerapkan kembali kepada mereka,” kata Trump di Gedung Putih, seperti diberitakan Time, dikutip dari Tempo.
Lebih lanjut, ada pula tarif tambahan bagi negara yang dianggap mendapat surplus perdagangan dengan Amerika Serikat.
Merangkum dari Data Badan Pusat Statistik memaparkan Indonesia mengalami keuntungan dagang dengan AS di mana ekspor non-migas Indonesia ke AS pada Februari 2025 mencapai US$ 2,35 miliar. Angka tersebut naik dibanding Februari 2024 dengan nilai US$ 2,1 miliar.
Adapun tarif tambahan yang diterapkan AS bervariasi, misal Indonesia yang diterapkan 32 persen dan Vietnam, 46 persen. Lalu Cina 34 persen dan Uni Eropa 20 persen.
Ekonom senior Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai alasan dari kebijakan kontroversial ini adalah untuk menyelamatkan fiskal AS. Ia menilai Trump sedang putus asa dengan kondisi fiskal di negaranya hingga menerapkan tarif tinggi ke seluruh negara.
Wijayanto menilai segala cara dilakukan oleh presiden dari Partai Republik itu guna menarik tambahan pemasukan. “Tidak peduli apakah negara besar atau negara kecil dengan ekonomi rentan, Trump mencoba menekan dan mengambil untung,” ujarnya.
Dampak Negatif Kebijakan Trump
Menurut Wijayanto, dampak dari kebijakan ini juga akan berdampak bagi perkembangan ekonomi di Tanah Air. Pasalnya, ekspor Indonesia ke AS didominasi oleh produk industri padat karya seperti sepatu, tekstil dan produk tekstil (TPT), produk karet, alat listrik hingga elektronik. “Tekanan PHK akan semakin kuat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Direktur Program Indef Eisha Maghfiruha Rachbini memaparkan secara rata-rata tahunan, pangsa pasar ekspor Indonesia ke AS sebesar 10,3 persen. Pangsa pasar tersebut terbesar kedua setelah ekspor Indonesia ke Cina.
Dengan adanya tarif tambahan, tentunya akan menurunkan jumlah ekspor Indonesia ke AS. “Dampaknya adalah melambatnya produksi dan lapangan pekerjaan,” pungkas Eisha.
Tanggapan Pemerintah RI
Merangkum dari siaran pers Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia tarif resiprokal AS akan berlaku mulai tanggal 9 April 2025 mendatang. Selama ini produk ekspor utama Indonesia di pasar AS antara lain adalah elektronik, tekstil dan produk fashion dan tekstil, alas kaki, palm oil, karet, furnitur, udang dan produk-produk perikanan laut.
Pemerintah Indonesia akan mengambil langkah-langkah strategis untuk memitigasi dampak negatif terhadap perekonomian nasional Indonesia dengan menjaga stabilitas yield Surat Berharga Negara (SBN) ditengah gejolak pasar keuangan global paska pengumuman tarif resiprokal AS.
Bersama Bank Indonesia, Pemerintah juga terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memastikan likuiditas valas tetap terjaga agar tetap mendukung kebutuhan pelaku dunia usaha serta memelihara stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Sebagai bagian dari negosiasi, Pemerintah Indonesia juga telah menyiapkan berbagai langkah untuk menjawab permasalahan yang diangkat oleh Pemerintah AS, terutama yang disampaikan dalam laporan National Trade Estimate (NTE) 2025 yang diterbitkan US Trade Representative.
Pilihan Editor: Carrie Underwood Dijadwalkan Tampil di Pelantikan Donald Trump
ILONA ESTHERINA | EKON GO.ID
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi dan Inspirasi Perempuan di Telegram Cantika