Diam Itu bukan Netral

2 weeks ago 14
Diam Itu bukan Netral Hana Ahmad Abdillah(DOK PRIBADI)

DI era ketika satu unggahan saja bisa menjangkau ribuan orang dalam hitungan menit, kita justru melihat sebuah kontradiksi yang menggelisahkan khususnya bagi saya yaitu, generasi dengan akses teknologi terluas dalam sejarah manusia memilih untuk tidak bersuara.

Scrolling media sosial siapa pun hari ini dan kebanyakan kita akan menemukan pola yang sama. Story tentang makanan, reels pilates, konten hiburan yang melimpah ruah tetapi hampir terkubur ketika berbicara berbagai kebijakan-kebijakan yang langsung berdampak kepada kehidupan mereka sendiri.

Kenaikan UKT yang mencekik mahasiswa sehingga harus mengundurkan diri dari perguruan tinggi terkait. Revisi undang-undang yang menyempitkan ruang sipil. Kebijakan-kebijakan lain yang dibuat tanpa satu pun ruang untuk suara anak muda khususnya mahasiswa di dalamnya. Saya yakin, mereka tahu. Mereka merasakannya. Tapi mereka memilih diam.

Saya seringkali mendengar alasannya. “Gue nggak ngerti politik.” “Ah gue takut salah.” “Ngapain, kita aja nggak didengar juga.” “Nggak ngaruh kok di kehidupan gue.”

Saya akan mengatakan ini dengan jelas bahwa, semua alasan itu adalah cara yang sangat nyaman untuk menghindari tanggung jawab. Kita tidak perlu menjadi ahli hukum untuk berpendapat bahwa kebijakan tertentu terasa tidak adil. Kita juga tidak perlu memiliki gelar ilmu politik yang tinggi untuk menyuarakan bahwa ada sesuatu yang salah ketika keputusan besar dibuat dan disahkan tanpa transparansi dan tanpa pelibatan publik sedikit pun.

Menurut saya, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk jujur dan menyuarakan tentang apa yang kita rasakan dan pikirkan. Perihal takut salah ya mungkin kita akan salah.

Sebuah opini bisa keliru, argumen bisa tidak sempurna. Tapi diam tidak membuat kita lebih benar. Diam hanya membuat kita semakin tidak didengar, bersuara saja belum tentu didengar apalagi jika kita benar-benar diam.

Yang penting untuk dipahami dan ini yang paling sering luput dari kesadaran kita, yakni diam bukan posisi yang netral. Diam adalah sebuah pilihan dan setiap pilihan memiliki konsekuensi.

Ketika anak muda yang terbanjiri begitu banyak informasi, yang terdampak langsung dengan kebijakan, yang memiliki platform untuk bersuara, justru memilih untuk tidak menggunakannya. Yang diuntungkan adalah mereka yang sudah berkuasa.

Status quo tidak membutuhkan pendukung, ia hanya membutuhkan ketidakhadiran dan kebisuan suara yang menentang.

Sejalan dengan kritik Noam Chomsky tentang bagaimana media dan struktur kekuasaan membentuk persetujuan publik (manufacturing consent), seseorang yang merasa sendirian dalam pandangannya cenderung memilih diam. Fenomena ini juga dijelaskan dalam teori spiral of silence, yaitu ketika orang enggan menyuarakan pendapat karena menganggap pandangannya merupakan suara minoritas.

Generasi sebelumnya turun ke jalan dengan risiko yang jauh lebih nyata, penjara, kekerasan, kehilangan pekerjaan hanya untuk menyuarakan hal yang mereka anggap benar. Kita hari ini bisa melakukannya di mana pun untuk bersuara.

Risiko memang tetap ada namun, risiko itu tidak sebanding dengan konsekuensi dari kebisuan kolektif kita sebagai anak muda. Kita tidak harus sempurna, kita tidak harus berani sepenuhnya tetapi kita bisa memulainya untuk bersuara, me-repost apa yang kita pikirkan melalui berbagai postingan banyak orang yang telah menyuarakannya. Karena demokrasi bukan tontonan, ia adalah praktik partisipasi, dan partisipasi dimulai dari keberanian untuk tidak diam.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |