Hotel de Paviljoen Bandung menggelar pameran seni "Pertemuan Ruang Waktu" karya alumni dan dosen STISI Angkatan 90-an.(Dok. De Paviljeon Bandung)
HOTEL de Paviljoen Bandung resmi menjadi ruang perjumpaan bagi para perupa melalui pameran seni bertajuk Pertemuan Ruang Waktu. Pameran yang berlangsung mulai 10 Juli hingga 10 September 2026 ini menghadirkan karya-karya reflektif dari para alumni dan dosen STISI Angkatan 1990-an.
Mengambil inspirasi dari gagasan ruang-waktu Albert Einstein, pameran ini memandang setiap karya seni sebagai jejak peristiwa dan rekaman proses panjang yang membentuk kesadaran artistik penciptanya. Dalam ajang ini, ruang pamer bukan sekadar lokasi fisik, melainkan medium yang mempertemukan kenangan, masa lalu, masa kini, serta pencapaian artistik para seniman selama puluhan tahun.
Pengunjung dapat menikmati beragam pendekatan teknik, mulai dari lilitan kawat, arsiran, anyaman, teknik tempel, cat akrilik, cat minyak, pahatan, hingga eksplorasi mixed media. Keragaman ini menegaskan bahwa setiap seniman tumbuh melalui pengalaman yang berbeda, namun tetap membawa resonansi dari ruang pembelajaran yang pernah mempertemukan mereka di masa lalu.
Kurator pameran, Rahmat Jabbaril, menjelaskan bahwa pameran ini dibaca melalui perspektif fenomenologi Edmund Husserl. Menurutnya, Pertemuan Ruang Waktu menjadi titik temu bagi pengalaman artistik yang tersebar dalam rentang waktu yang lama.
“Pameran ini bisa dibaca sebagai singularitas kecil, titik temu berbagai lintasan pengalaman, gagasan, dan ekspresi yang membentuk konstelasi baru,” ungkap Rahmat Jabbaril dalam keterangannya.
Acara pembukaan yang digelar pada 10 Juli 2026 dibuka secara resmi oleh Anggota DPR RI & MPR RI, Atalia Praratya. Suasana pembukaan semakin artistik dengan penampilan musikalisasi puisi dari Distonansi Metafora yang memperkuat nuansa reflektif pameran.
Melalui kolaborasi ini, De Paviljoen Hotel Bandung berupaya mendekatkan seni rupa kepada masyarakat luas melalui ruang publik yang mudah diakses. Pameran ini mengajak publik untuk melihat seni bukan hanya sebagai hasil akhir, melainkan sebagai perjalanan kreatif yang terus hidup lintas generasi. (RO/Z-10)

















































