Musisi Melbourne Symphony Orchestra bersama musisi Indonesia menampilkan kolaborasi dalam konser Two Nations in Harmony yang mempertemukan karya musik klasik dan unsur musik tradisional Indonesia.(MI/Netty)
MUSIK kembali menjadi bahasa universal yang menyatukan dua negara melalui konser kolaborasi antara Melbourne Symphony Orchestra (MSO) asal Australia dengan komposer Indonesia Vishnu Satyagraha, yang turut melibatkan sejumlah musisi Tanah Air. Pertunjukan ini tidak hanya menghadirkan karya-karya musik klasik dan kontemporer, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya yang memperlihatkan harmoni antara Indonesia dan Australia.
Konser dibuka dengan Cascades karya Jessamie Kaitler yang dibawakan Melbourne Symphony Orchestra. Komposisi berdurasi sekitar tujuh menit tersebut menghadirkan nuansa kontemporer melalui permainan instrumen gesek yang dinamis. Suasana kemudian berubah menjadi lebih tenang lewat Vague Memories II karya Robert Davidson yang dibawakan dalam format kuartet gesek, menghadirkan perpaduan biola, viola, dan cello yang lembut.
Kolaborasi lintas negara mulai terasa ketika para musisi Indonesia bergabung bersama Melbourne Symphony Orchestra membawakan Andante Cantabile for String Orchestra karya Pyotr Ilyich Tchaikovsky yang diaransemen John M. Laverty. Perpaduan interpretasi para musisi dari kedua negara menghasilkan warna musikal yang kaya sekaligus menunjukkan musik klasik mampu menjadi ruang dialog budaya.
Penampilan dilanjutkan dengan Trapped for String Quintet karya Anton Koch yang menampilkan kekompakan lima pemain alat musik gesek. Pada sesi berikutnya, Indonesian Ensemble turut bergabung membawakan The Death of Ase dari Peer Gynt Suite karya Edvard Grieg, memberikan warna baru pada karya klasik tersebut. Konser kemudian ditutup dengan Yarra Code karya Vishnu Satyagraha, komposer Australia berdarah Indonesia, yang memadukan unsur musik kontemporer dengan identitas budaya kedua negara.
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, mengatakan Australia bangga dapat kembali menghadirkan Melbourne Symphony Orchestra ke Indonesia. Menurutnya, kolaborasi ini tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga memperkuat hubungan kedua negara sekaligus mendukung perkembangan industri kreatif.
"Kolaborasi ini benar-benar menyatukan Australia dan Indonesia untuk terus mengembangkan serta mendukung industri kreatif. Para alumni juga memiliki peran penting sebagai jembatan yang menghubungkan masyarakat kedua negara," ujarnya.
"Hubungan antara masyarakat Indonesia dan Melbourne Symphony Orchestra sangat erat. Setelah 10 tahun, hubungan ini telah berkembang menjadi sebuah keluarga. Hal itu menunjukkan bahwa Indonesia dan Australia adalah dua negara yang dapat berjalan selaras melalui musik," kata Sarah.
Rangkaian konser ditutup dengan tepuk tangan meriah dari penonton setelah seluruh musisi Indonesia dan Australia tampil bersama di atas panggung. Penampilan tersebut menjadi penutup yang menegaskan semangat kolaborasi budaya melalui musik sekaligus melengkapi rangkaian pertunjukan yang menampilkan karya-karya klasik dan kontemporer dari kedua negara. (Z-2)

















































