PERUBAHAN cuaca drastis terjadi di Iran setelah bertahun-tahun dilanda kekeringan. Beberapa waktu terakhir, negara tersebut dilaporkan mengalami hujan lebat, salju, serta penurunan suhu. Sejumlah wilayah mulai menunjukkan pemulihan, ditandai dengan bendungan yang kembali terisi dan vegetasi hijau yang tumbuh kembali.
Fenomena ini ramai dibincangkan di media sosial, terutama di kalangan akun pro-Iran. Sejumlah unggahan menampilkan kondisi bendungan yang meluap hingga jalanan yang tertutup salju, yang disebut sebagai bukti perubahan cuaca signifikan di negara tersebut.
Namun, perubahan ini juga memicu munculnya berbagai teori konspirasi. Beberapa akun mengklaim bahwa pergeseran cuaca tersebut bukan terjadi secara alami, melainkan berkaitan dengan perang 50 hari terakhir Iran versus Israel dan Amerika Serikat. Mereka menuding bahwa kondisi membaik setelah rudal Iran menghancurkan sistem radar tertentu yang digunakan untuk merekayasa cuaca di negeri itu dari jarak jauh.
“Klaim ini bahkan meluas dengan menyebut target seperti sistem pertahanan rudal THAAD dan radar peringatan dini AN/FPS-132 di Qatar sebagai bagian dari jaringan besar untuk memanipulasi cuaca,” demikian seperti dilaporkan Times Now World, Sabtu, 25 April 2026.
Narasi ini juga menghidupkan kembali teori lama yang dikenal sebagai “pencurian hujan” yakni anggapan bahwa sejumlah negara menggunakan teknologi rekayasa cuaca untuk mengalihkan curah hujan dari Iran ke wilayah lain. Teori tersebut telah beredar setidaknya sejak 2018 dan kerap dikaitkan dengan perbedaan kondisi cuaca di kawasan perbatasan.
Meski begitu, para ilmuwan dan otoritas meteorologi Iran membantah klaim tersebut. Mereka menegaskan bahwa perubahan cuaca terjadi karena faktor alami, termasuk pengaruh pola iklim global seperti El Niño dan La Niña, serta dampak dari periode panas yang panjang sebelumnya. Belum lagi dampak perang saat ini yang menyebabkan fenomena black rain dari ledakan kilang dan depot bahan bakar minyak.
Seorang peneliti di Center for Strategic and International Studies pernah menulis di laman lembaga think tank itu pada 23 Mei 2023 lalu bahwa tuduhan pencuri hujan ditujukan otoritas Iran kepada Uni Emirat Arab dan Amerika Serikat. Padahal, tuduhan itu dimaksudkan untuk mengalihkan isu dari salah manajemen di dalam negeri itu.
Kala itu disampaikan bahwa Iran menjadi negara keempat di dunia dengan tingkat stres-air paling parah. Hampir 77 persen sumber air tanah di negara itu mengalami eksploitasi ekstrem, yang berarti Iran menyedotnya tiga kali lebih cepat daripada tingkat keterisian kembali sumber-sumber air tersebut secara alami.

































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4908650/original/070505300_1722696593-20240803BL_Perebutan_Peringkat_Ketiga_Piala_Presiden_2024_3.JPG)













