PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. menghadapi tantangan serius dalam menjaga pasokan bahan baku di tengah konflik Timur Tengah. Saat ini, Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan mengatakan 300 ribu ton material impor tertahan di kawasan Selat Hormuz.
Menurut dia, hingga saat ini ketergantungan pada bahan baku impor masih menjadi kendala utama. Kondisi ini berpotensi mengganggu target produksi dan kinerja operasional perseroan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Bahan baku terus terang kita masih impor, dan ada sekitar 300 ribu ton yang masih bermasalah di Selat Hormuz,” kata Djohan di kantor Krakatau Steel, Jakarta pada Senin, 27 April 2026.
Djohan menilai, industri baja tidak bisa dilepaskan dari dinamika global, baik dari sisi geopolitik, kebijakan perdagangan, maupun gangguan logistik. Ketidakpastian tersebut membuat industri baja domestik menghadapi tekanan berlapis.
Secara operasional, perusahaan sebenarnya menargetkan volume produksi sekitar 1,2 juta ton per tahun untuk pasar domestik. Bahkan, jika kapasitas terpasang dimaksimalkan, produksi dapat mencapai hingga 3 juta ton per tahun.
Kendati demikian, Djohan mengatakan, tekanan lainnya seperti pelemahan nilai tukar rupiah berdampak langsung terhadap biaya produksi. Terutama untuk pembelian bahan baku yang masih bergantung pada impor.
Selain itu, kenaikan biaya logistik dan asuransi turut menambah beban operasional. Djohan menjelaskan, kondisi geopolitik global turut memicu kenaikan harga bahan baku, yang pada akhirnya mendorong penyesuaian harga produk baja.
Ia melanjutkan, Krakatau Steel tetap berhati-hati dalam menaikkan harga agar tidak kehilangan daya saing di pasar domestik. “Kenaikan harga ini di luar kendali kami karena dipengaruhi oleh faktor geopolitik. Tapi kami juga tidak bisa sembarangan menaikkan harga, karena ada persaingan dengan baja impor yang lebih murah, terutama dari Cina,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Krakatau Steel tetap menargetkan kinerja keuangan yang solid. Dengan kombinasi pasar domestik dan ekspor, perusahaan membidik pendapatan Rp 20 triliun. Dari target tersebut, perseroan membidik margin laba bersih minimal 10 persen pada 2026.
Pada 2025, PT Krakatau membukukan laba bersih sebesar Rp 5,68 triliun, dengan pendapatan mencapai US$ 959,84 juta atau setara sekitar Rp 16,05 triliun.
Dari sisi operasional, volume penjualan produk baja mencapai 944.562 ton, meningkat 29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun total aset Krakatau Steel tercatat sebesar US$2,77 miliar atau setara Rp 46,24 triliun.
Sementara upaya penyelesaian kewajiban utang berdampak pada penurunan liabilitas perseroan sebesar 17,04 persen menjadi US$ 2,04 miliar atau sekitar Rp 34,11 triliun. Perbaikan struktur keuangan tersebut mendorong peningkatan signifikan pada ekuitas perseroan. Pada 2025, nilai ekuitas Krakatau Steel melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 725,51 atau setara sekitar Rp 12,13 triliun.

































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4908650/original/070505300_1722696593-20240803BL_Perebutan_Peringkat_Ketiga_Piala_Presiden_2024_3.JPG)













