Cara Mengatasi Jet Lag dengan Olahraga

4 hours ago 1

MENGATASI gangguan pola tidur akibat perbedaan waktu atau jet lag sering kali menjadi tantangan besar bagi para pelancong lintas negara. Namun, rahasia sederhana yang dibagikan oleh sejumlah selebriti dunia kini mendapat validasi ilmiah dari pakar kesehatan. Kuncinya ternyata terletak pada aktivitas fisik atau olahraga teratur yang dilakukan secara disiplin saat tiba di destinasi baru.

Bintang film Wicked Cynthia Erivo mengungkapkan bahwa latihan fisik menjadi senjata andalannya. Pelari maraton internasional ini selalu menyempatkan diri untuk memacu detak jantungnya sesaat setelah mendarat di negara tujuan. Langkah serupa turut diterapkan oleh mantan petenis nomor satu dunia, Maria Sharapova. Dia kerap memanfaatkan aktivitas lari atau sekadar berjalan kaki di area terbuka hijau tanpa alas kaki guna mempercepat pemulihan kebugaran tubuhnya. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Saat saya mendarat baik malam itu juga atau keesokan paginya saya langsung pergi lari. Itu benar-benar menghilangkan rasa kantuk dan kaku," ujar Erivo dikutip dari Travel + Leisure.

Senada dengan hal itu, aktor Daniel Dae Kim mengakui faktor bertambahnya usia membuatnya harus lebih aktif bergerak. Jika sebelumnya ia bisa langsung beraktivitas dan menghadiri rapat setelah menadarat, bahkan setelah penerbangan transkontinental selaam 14 jam. Kini ia memilih berolahraga pagi di zona waktu yang baru. "Jika saya bisa memacu detak jantung dan metabolisme saya di pagi hari di kota atau negara baru tersebut, itu memberi saya energi untuk melewati waktu-waktu mengantuk di tengah hari," ungkap Daniel.

Olahraga untuk Mengatasi Jet lag

Klaim para pesohor dunia ini kemudian diperkuat oleh penjelasan medis. Pakar kesehatan dari Vail Health Concierge Medicine, Melissa O’Meara, membenarkan adanya korelasi kuat antara aktivitas fisik dan regulasi jam biologis manusia. Berdasarkan hasil studi medis, olahraga kardio dengan intensitas sedang yang dilakukan di bawah paparan cahaya matahari terbukti efektif menggeser ritme sirkadian tubuh secara signifikan jika diterapkan selama tiga hari berturut-turut.

"Waktu berolahraga diketahui dapat menghasilkan pergeseran ritme sirkadian yang dapat membantu mengatasi jet lag," ucap Dr. Melissa. 

Lebih lanjut, O’Meara menyarankan agar waktu olahraga disesuaikan dengan arah penerbangan. Pelancong yang menuju ke arah timur direkomendasikan berolahraga pada pukul 7 pagi atau antara pukul 1 siang hingga 4 sore waktu setempat. Sebaliknya, bagi perjalanan ke arah barat, olahraga idealnya dilakukan antara pukul 7 malam hingga 10 malam. Aktivitas fisik terukur ini diklaim mampu mempercepat proses adaptasi alami tubuh hingga satu jam lebih cepat setiap harinya.

Selatin itu perjalanan jauh yang melewati lebih dari delapan zona waktu membutuhkan strategi pencegahan tambahan. Penggunaan suplemen melatonin dan pengaturan waktu olahraga sebelum keberangkatan sangat disarankan untuk membantu tubuh beradaptasi secara optimal. 

Tips Mengatasi Jet lag

Sementara itu, seorang praktisi kesehatan umum dari Boots Online Doctor, Megha Pancholi, menegaskan pentingnya mempersiapkan jam biologis tubuh beberapa hari sebelum jadwal keberangkatan. Ia menjelaskan bahwa memanipulasi jadwal tidur dua hingga tiga hari lebih awal agar mendekati zona waktu destinasi merupakan langkah preventif yang sangat efektif.

Saat berada di dalam pesawat, penumpang disarankan untuk memaksakan diri tidur jika waktu di negara tujuan sudah menunjukkan malam hari. Langkah ini perlu dikombinasikan dengan mencari paparan sinar matahari alami sesaat setelah mendarat untuk merangsang otak mendeteksi waktu lokal yang baru.

"Untuk mengurangi dampak buruk jet lag, usahakan tubuh memperoleh istirahat yang cukup sebelum keberangkatan dan mulailah menggeser jadwal tidur Anda beberapa hari lebih awal agar selaras dengan area tujuan," ujar Pancholi dalam laporan Euronews.

Selain pola tidur, Pancholi juga memberikan perhatian khusus pada masalah dehidrasi akibat kondisi udara kabin yang sangat kering. Penurunan kelembapan yang drastis di pesawat membuat tubuh kehilangan cairan lebih cepat melalui pernapasan dan kulit. Untuk mengantisipasinya, ia mengimbau pelancong membawa botol air minum sendiri dan mengonsumsi buah-buahan berkadar air tinggi, serta menjauhi minuman beralkohol maupun kafein yang bersifat memicu buang air kecil secara berlebih.

LAODE MUHAMAD ASHEGAF

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |