Ilustrasi.(Magnific)
CADANGAN Minyak Strategis Amerika Serikat (Strategic Petroleum Reserve/SPR) merosot ke level terendah sejak 1983 pada bulan lalu. Penurunan tajam ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran atas stabilitas pasokan dan harga minyak global.
Presiden AS Donald Trump mengakui bahwa setiap kali AS melakukan serangan terhadap Iran, harga minyak cenderung melonjak. Hal ini terbukti pada perdagangan Rabu (8/7), harga minyak mentah Brent mencapai level tertinggi sejak 19 Juni, menetap di angka US$78,02 per barel atau naik 5,2 persen dalam satu hari.
Level Terendah sejak Era Reagan
Berdasarkan data Departemen Energi AS, SPR berkurang sebanyak 6,2 juta barel dalam pekan yang berakhir pada 3 Juli, menyisakan 319,5 juta barel. Angka ini menandai level terendah sejak masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan. Padahal, kapasitas penyimpanan total mencapai 713,5 juta barel, jumlah yang terakhir kali hampir terpenuhi pada sekitar tahun 2010-an.
Meskipun saat ini AS merupakan produsen minyak terbesar di dunia dan eksportir neto produk minyak bumi, ketergantungan pada harga global tetap tinggi. Sekitar 60 persen minyak mentah yang diproses di kilang AS berasal dari produksi domestik, sementara 40 persen sisanya diimpor, terutama dari Kanada (60 persen) dan Meksiko (7 persen).
Mengapa Ketegangan Iran Tetap Memengaruhi Harga di AS?
Walaupun hanya sekitar 7 persen minyak yang dikonsumsi AS melewati Selat Hormuz, harga minyak mentah tidak ditentukan oleh lokasi produksinya, melainkan oleh harga patokan global yang mencerminkan penawaran dan permintaan dunia.
"Kemandirian energi tidak berarti keamanan harga atau independensi harga karena minyak adalah komoditas yang diperdagangkan secara global dan semua pasar saling terkait," ujar Maksim Sonin, eksekutif energi dari Stanford University’s Center for Fuels of the Future.
Jika pasokan melalui Selat Hormuz terganggu, pembeli global akan berebut mencari pasokan pengganti dari negara lain. Persaingan ini mendorong harga minyak mentah global naik, yang pada akhirnya meningkatkan biaya bagi kilang minyak AS dan membebani konsumen di pompa bensin.
Dampak Luas: Kenaikan harga minyak tidak hanya dirasakan di SPBU. Maskapai penerbangan harus membayar lebih untuk bahan bakar jet, perusahaan logistik mengeluarkan biaya lebih untuk diesel, sehingga memicu kenaikan harga pangan dan barang kebutuhan pokok.
Fungsi dan Kondisi Kritis SPR
SPR didirikan pada tahun 1975 setelah embargo minyak Arab untuk menjadi cadangan darurat saat terjadi gangguan pasokan besar, seperti perang atau bencana alam (misalnya Badai Katrina 2005). Namun, penggunaan cadangan ini secara terus-menerus mulai menimbulkan kekhawatiran.
Abhi Rajendran, peneliti dari Rice University’s Center for Energy Studies, mencatat bahwa dari 319,5 juta barel yang tersisa, mungkin hanya sekitar 100 hingga 150 juta barel yang benar-benar dapat digunakan atau layak ekspor. "Beberapa minyak mentah di sana sudah tersimpan sangat lama di gua-gua penyimpanan tua," ungkapnya.
Jika AS berhenti melepaskan cadangan minyak ke pasar, para ahli memperingatkan akan ada dampak ganda. Selain berkurangnya pasokan fisik, pasar akan menangkap sinyal bahwa situasi krisis jauh lebih parah dari yang diperkirakan. Ini justru dapat memperparah lonjakan harga minyak global. (Al Jazeera/I-2)

















































