Takut kecoak dan cicak bukan berarti lemah.(Dok. Magnific)
TAKUT melihat kecoak atau cicak sering kali dianggap sebagai tanda seseorang mudah panik atau memiliki mental yang lemah. Padahal, menurut penjelasan psikologi, reaksi tersebut merupakan respons alami otak yang telah berkembang selama ribuan tahun untuk membantu manusia mengenali dan menghindari ancaman.
Para ahli menjelaskan bahwa ketakutan terhadap hewan tertentu tidak hanya dipicu oleh rasa takut (fear), tetapi juga rasa jijik (disgust). Kedua emosi ini bekerja bersama sebagai mekanisme perlindungan agar manusia menjauhi sesuatu yang berisiko membawa penyakit atau membahayakan keselamatan.
Tinjauan ilmiah dalam Clinical Psychology Review yang dimuat National Library of Medicine (NLM) menyebutkan, rasa jijik berperan besar dalam munculnya fobia terhadap hewan kecil seperti kecoak. Karena kecoak identik dengan lingkungan kotor dan bakteri, otak secara otomatis memberi sinyal menghindar sebelum seseorang sempat berpikir rasional.
Sementara pada cicak, meski tidak berbahaya, gerakannya yang tiba-tiba dan kemampuannya merayap di langit-langit memicu respons kaget. Pengalaman buruk masa kecil atau melihat reaksi takut dari anggota keluarga juga turut membentuk pola ketakutan ini melalui proses belajar.
Namun, psikolog membedakan antara rasa takut wajar dengan fobia spesifik. Berdasarkan data National Institute of Mental Health (NIMH), fobia spesifik adalah ketakutan intens yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Tercatat sekitar 9,1% orang dewasa di Amerika Serikat mengalami kondisi ini dalam satu tahun terakhir.
Dengan demikian, rasa takut terhadap kecoak atau cicak adalah bagian dari sistem pertahanan alami tubuh yang dipengaruhi evolusi dan pengalaman hidup. Jika ketakutan tersebut mulai menghambat produktivitas, berkonsultasi dengan profesional atau psikolog sangat disarankan untuk penanganan lebih lanjut. (Z-10)

















































