Buah simalakama manuver tarif Donald Trump

1 day ago 5

Sejumlah ekonom malah menyebutnya 'aneh dan hanya masuk akal di kepala Presiden Trump.'

Jakarta (ANTARA) - "Tarif itu bagaikan wiski. Sedikit wiski dengan takaran yang tepat, bisa menyegarkan, tapi jika terlalu banyak, dengan takaran yang salah, bisa membuat kita mabuk berat," kata Senator John Neely Kennedy dari Partai Republik daerah pemilihan Louisiana seperti diwartakan AP belum lama ini.

Kennedy sedang menyentil sejawatnya dari Republik, Donald Trump, yang tengah menjadi presiden AS, yang Rabu 3 April lalu dengan tanpa pandang bulu, mengenakan tarif impor ke puluhan negara yang dapat memulai babak baru perang dagang global.

Dalam hal yang disebutnya "Hari Pembebasan", Trump mengumumkan tarif perdagangan kepada 60 negara, yang disebut berbagai kalangan sebagai hambatan perdagangan terberat yang dijatuhkan AS dalam 100 tahun terakhir. Indonesia dijatuhi tarif 32 persen.

Trump percaya AS adalah korban perjanjian dagang yang buruk. Dia menilai negara-negara lain membanjiri pasar AS dengan barang murah yang membunuh perusahaan-perusahaan Amerika dan menghilangkan lapangan kerja di negara itu.

Dia beranggapan bahwa negara-negara lain mengenakan hambatan dalam bentuk tarif dan pajak impor terhadap produk-produk AS sehingga produk AS tidak kompetitif di negara itu.

Niat Trump sebenarnya mulia. Dia berusaha menghidupkan lagi industri dalam negeri dan melindungi lapangan kerja AS.

Dia mengklaim langkahnya sebagai resiprokal, atau reaksi terhadap langkah yang ditempuh mitra-mitra dagang AS. Nah, bagian ini yang diperdebatkan banyak negara karena mereka merasa tak mengenakan tarif sebesar tarif yang dijatuhkan Trump kepada mereka.

Media-media seperti BBC, New York Times dan Euronews, lalu menyingkapkan bahwa tarif adalah alasan Trump untuk mengatasi defisit perdagangan AS.

Mereka membedah sebuah rumus yang disebut Gedung Putih rumit, tapi ternyata hanya formula sederhana untuk mengatasi defisit. Sejumlah ekonom malah menyebutnya "aneh dan hanya masuk akal di kepala Presiden Trump."

Formula itu ternyata hanya soal jumlah defisit perdagangan AS dari sebuah negara yang dibagi dengan total impor AS dari negara itu, lalu kembali dibagi dua.

Contoh, AS mengalami defisit perdagangan dengan China sebesar 295 miliar dolar AS. Jumlah barang yang diimpor AS dari China senilai 440 miliar dolar AS. Bagilah 295 dengan 440, maka didapat 67 persen. Setelah itu bagi dua dan bulatkan. Maka, hasilnya adalah 34 persen. Inilah jumlah tarif yang dikenakan AS kepada China.

Trump berusaha keras mengatasi defisit perdagangan AS. Masalahnya, defisit perdagangan tidak cuma diakibatkan oleh tarif impor.

Baca juga: Sekjen PBB peringatkan "tidak ada yang menang dalam perang dagang"


Pasar bereaksi negatif

Defisit perdagangan, meminjam analisis Dr James Scott dari King's College London, justru akibat ketidakseimbangan antara tabungan dan investasi, ditambah perbedaan dalam pengeluaran pemerintah dan pendapatan pajak.

AS mengalami defisit perdagangan karena menjalankan defisit fiskal yang besar sekali yang jumlahnya mencapai 5,5 persen dari PDB. Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang negara-negara kaya lainnya.

Oleh karena itu, jika Trump benar-benar ingin menyeimbangkan neraca perdagangan AS, maka dia harus mengatasi masalah itu.

Beberapa kalangan lain menilai defisit yang dialami AS juga diakibatkan oleh cara perekonomian AS bekerja. Selama ini warga AS berbelanja lebih banyak daripada yang mereka dapatkan, yang membuat AS lebih banyak membeli daripada menjual.

Selama hal itu berlanjut, AS mungkin akan terus mengalami defisit kendati tarif impor kepada mitra-mitra dagang dinaikkan.

Faktnya, AS sudah terlalu tergantung kepada barang impor yang murah, karena industri domestiknya tidak sekompetitif yang lain sampai-sampai perusahaan-perusahaan mereka sendiri seperti Apple dan General Motors merelokasi ke tempat-tempat yang menawarkan biaya produksi lebih murah dan pasar yang berdaya serap lebih luas.

Maka tak heran ketika Trump menaikkan tarif, rakyat AS sendiri yang kena getahnya. Kenapa? Karena yang menanggung tarif adalah importir-importir AS yang kemudian membebankan hal itu kepada konsumen dengan menaikkan harga produk impor.

Dalam logika ini manuver tarif Trump pun malah ditanggapi negatif oleh pasar domestik, yang tercermin dari gejolak di bursa Wall Street, Jumat kemarin.

Hari itu, harga saham-saham dari hampir semua sektor, berjatuhan, mulai dari perbankan, retail, pakaian, maskapai, sampai perusahaan teknologi, karena investor saham membayankan konsumen bakal memangkas pengeluaran akibat tarif yang menyebabkan harga barang dan jasa menjadi lebih mahal.

Para investor pun melepas portofolio modal mereka pada saham perusahaan-perusahaan yang diprediksi akan sangat dirugikan oleh tarif impor versi Trump.

Konklusi besar hari itu adalah anjloknya indeks S&P 500 sampai 6 persen yang merupakan terdalam sejak Maret 2020, Dow Jones Industrial Average jebol 2.231 poin atau 5,5 persen, dan Nasdaq terpangkas 5,8 persen atau terdalam sejak Desember tahun lalu.

Dari 500 perusahaan yang tergabung dalam S&P 500, hanya 14 saham yang tidak jatuh. Begitu pula dengan harga minyak, yang terperosok ke titik terendah sejak 2021.

Baca juga: PM Jepang janjikan aksi konkret atas "krisis nasional" akibat tarif AS

Baca juga: Anggota DPR: Kebijakan tarif Trump jadi momentum perkuat pangan lokal


Kemungkinan resesi meningkat

Akibat lebih jauh dari harga-harga yang melambung adalah naiknya inflasi yang bisa berujung pada turunnya aktivitas ekonomi atau resesi, padahal Trump berusaha keras memacu lagi gairah ekonomi AS.

Dalam pandangan sejumlah ekonom dan lembaga keuangan, dinamika tarif impor malah menaikkan kemungkinan resesi.

Ken Rogoff, mantan kepala ekonom IMF, memprediksi kemungkinan resesi di AS kini naik menjadi 50 persen, sementara JP Morgan menyebut kemungkinan terjadi resesi meningkat menjadi 60 persen.

Skenario ini mengusik banyak kalangan di AS, termasuk Senator John Neely Kennedy. Mereka khawatir manuver perdagangan Trump terlalu berlebihan yang malah bisa sangat merugikan konsumen dan pasar domestik AS, yang sudah merintih lama akibat harga-harga membumbung tinggi akibat berbagai faktor.

Sudah begitu, perang tarif yang dilancarkan Trump tidak jelas arahnya. Trump menegaskan beban tarif ditanggung oleh mitra-mitra dagang AS, tapi faktanya importir-importir AS yang mesti menanggung beban itu.

Alasan-alasan menjatuhkan tarif pun kerap tidak kuat, termasuk rumus tarif yang ternyata hanya untuk mengakali defisit perdagangan, dan alasan-alasan sumir, seperti alasan arus imigran ke AS seperti ditudingkan kepada Kanada.

Masalah lain yang mengemuka adalah koordinasi dalam pemerintahan AS, sehingga pengenaan tarif kepada mitra dagang sering maju mundur. Hari ini diumumkan, besok ditangguhkan, diumumkan lagi, ditangguhkan lagi, begitu seterusnya.

Ini membuat sejumlah kalangan meyakini perang tarif hanyalah cara Trump untuk menggertak mitra-mitra dagang AS agar menegosiasi ulang perdagangannya dengan AS sehingga tidak terus-terusan defisit.

Bagi negara yang postur ekonominya tidak sebesar China atau Uni Eropa, mereka akan cepat-cepat bernegosiasi ulang dengan Trump.

Tapi bagi raksasa seperti China, yang penyuka berat stabilitas, manuver coba-coba dan gertakan dianggap sebagai langkah riskan yang tak hanya bisa mencelakakan mereka tapi juga membahayakan perekonomian global.

China pun memilih membalas ketimbang negosiasi ulang. Akibatnya, pasar keuangan bereaksi negatif karena ini menjadi pesan bahwa perang dagang benar-benar terjadi dan akibatnya bisa buruk bagi dunia, termasuk bahaya resesi.

Namun, butuh waktu agak lama untuk melihat apakah manuver Trump di dalam ruang ekonomi global bakal menyehatkan dunia, atau malah merupakan langkah toksik untuk dunia.

Baca juga: Medan tempur baru Prabowo: tarif Trump dan tekanan asimetris

Baca juga: Apa itu kebijakan tarif Trump dan bagaimana dampaknya bagi Indonesia?

Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |