Benarkah Urine Manusia Bisa Menjadi Pupuk?

19 hours ago 2

TEMPO.CO, Jakarta - Banyak orang mungkin merasa jijik atau skeptis saat mendengar bahwa urine manusia bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Selama ini urine lebih sering dianggap sebagai limbah yang harus segera dibuang. Namun fakta penelitian justru menemukan bahwa urine sebenarnya mengandung unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium—komponen utama dalam pupuk yang biasa digunakan untuk menyuburkan tanaman.

Urine Manusia Mengandung Senyawa Penting

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Dikutip dari laman New Scientist, urine manusia mengandung berbagai senyawa penting untuk pertumbuhan tanaman seperti nitrogen. Namun, metode kimia yang digunakan untuk mengekstraknya masih kurang efisien dibandingkan dengan teknik industri seperti proses Haber-Bosch—mengubah nitrogen dari udara menjadi amonia dengan bantuan hidrogen.

Saat ini, Xinjian Shi dari Universitas Henan di Kaifeng, Tiongkok, bersama timnya telah menemukan cara baru untuk menghasilkan perkarbamida, yakni senyawa kaya nitrogen dengan menambahkan oksigen dari udara dan katalis grafit ke dalam urine. Metode ini lebih sederhana dan hanya memerlukan beberapa tahap serta tidak menghasilkan limbah.

"Sebelum metode kami dikembangkan, pemisahan urea dari urine dilakukan dengan memekatkan urine hingga urea dan garam anorganik mengendap, kemudian memurnikan urea berdasarkan perbedaan kelarutannya," jelas Shi. "Proses ini cukup rumit dan menghasilkan urea dengan tingkat kemurnian yang rendah."

Inovasi Pupuk dari urine

Dilansir dari laman Fairplanet.org, penggunaan urine manusia sebagai pupuk yang disebut Bionitrate fertiliser. Teknik ini dikembangkan oleh seorang lulusan Universitas Pertanian dan Sumber Daya Alam Lilongwe melalui perusahaan bernama Environmental Industries dan telah memberikan pemahaman baru bagi petani lokal serta pemerintah Malawi.

Program ini bertujuan untuk mendorong pengembangan bioteknologi serta menciptakan pupuk yang lebih ekonomis, ramah lingkungan, dan aman untuk digunakan. Menurut Goodfellow Phiri, Direktur Environmental Industries, pupuk Bionitrate tidak menimbulkan risiko kesehatan atau dampak negatif terhadap lingkungan. Meskipun sebagian petani masih meragukan aspek kesehatan dan etika, Phiri menegaskan bahwa pupuk ini sepenuhnya aman digunakan.

Ia juga menjelaskan bahwa setelah dikumpulkan dari toilet, urine disimpan dalam wadah tertutup rapat selama beberapa minggu untuk menjalani reaksi kimia. Proses ini mengubah urine dari sifat asam menjadi basa serta menghasilkan produk dengan kadar garam tinggi yang steril dan tidak berbau.

"Saat dalam kondisi basa, pH-nya melebihi tujuh dan produk ini menjadi asin. Dalam keadaan ini, semua kuman mati," ujar Phiri. "Selain itu, pupuk ini membantu menjaga kesuburan tanah dengan meningkatkan pH-nya, menyerupai efek kapur pertanian pada tanah yang bersifat asam."

Cara Menggunakan Pupuk Urine untuk Kebun Rumah

Dikutip dari Rich Earth Institute, penggunaan urine sebagai pupuk telah dikenal sejak zaman dahulu dan masih banyak diterapkan di berbagai komunitas di seluruh dunia. Urine manusia kaya akan nutrisi esensial yang dibutuhkan tanaman, seperti nitrogen, fosfor, kalium, magnesium, kalsium, dan sulfur.

Daripada membuang zat-zat berharga ini ke saluran pembuangan—yang dapat mencemari lingkungan dan memicu pertumbuhan alga berbahaya—urine manusia dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di kebun rumah.

Pemupukan dengan urine juga berkontribusi dalam penghematan air karena mengurangi kebutuhan untuk menyiram dengan air bersih. Metode ini ramah lingkungan dan bisa diterapkan oleh siapa saja sebagai cara menjaga keseimbangan ekosistem air sekaligus meningkatkan hasil panen.

Untuk mendapatkan manfaat pupuk maksimal dari urine manusia, penggunaannya secara langsung lebih disarankan dibandingkan melalui proses pengomposan. Proses pengomposan dapat menyebabkan hilangnya beberapa nutrisi yang terkandung dalam urine. Namun, jika penyimpanan urine cair menjadi kendala atau lebih nyaman dalam bentuk kompos, menggabungkannya dengan bahan kompos lain bisa menjadi alternatif. Selain itu, urine juga dapat mempercepat proses penguraian dalam tumpukan kompos.

Dalam pengomposan, urine sebaiknya dicampurkan dengan bahan kaya karbon seperti daun kering, jerami, kertas, atau serbuk gergaji untuk mengurangi kehilangan nitrogen. Sebaliknya, jika kompos lebih banyak mengandung bahan kaya nitrogen seperti sisa dapur atau tanaman hijau, nitrogen dalam urine lebih mudah menguap selama proses pengomposan.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |